Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Desember 2009

DAMAI DI HATI, DAMAI DI BUMI

Beberapa hari lagi kita akan mengakhiri tahun 2009 ini dan akan memasuki 2010. Barangkali sebagian orang sudah tidak sabar lagi untuk memasuki tahun yang baru dengan harapan akan suasana-suasana baru, situasi-situasi baru dan kondisi-kondisi yang baru yang lebih positif, lebih baik dan lebih meningkat kearah yang menggembirakan hati dibanding tahun 2009 ini. Akan tetapi bagaimanapun tahun 2009 ini membuka momentum baru bagi pengharapan umat manusia bagi dunia ini. Kita tidak mungkin melupakannya begitu saja karena bagaimanapun tahun ini telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan manusia dan dunia.

Pengharapan akan adanya damai di bumi ini bukan semata-mata hanya merupakan pengharapan dari umat manusia yang hidup di dalam zaman ini. Dari zaman dahulu dalam setiap generasi manusia, setiap orang selalu berada dalam kerinduan yang sangat dalam untuk menikmati damai di bumi ini. Tetapi sejarah membuktikan bahwa sampai saat ini kedamaian yang sesungguhnya yang telah terlukiskan dalam setiap mimpi, filsafat, puisi,ceritera dongeng dan ideologi tetap saja masih jauh dari kenyataan.

Namun ada satu hal yang pasti dan bersifat universal bahwa Sumber damai yang sejati adalah Allah sendiri. Bagi orang Nasrani, Allah telah meletakkan  pengharapan yang sesungguhnya dari umat manusia bagi damai yang sempurna didalam dan melalui Yesus Kristus. Mengapa dikatakan "sempurna"?  Karena Kitab Suci selalu mengaitkan kata Damai  dengan kata Sejahtera. Salah satu contohnya adalah buah Roh 'damai sejahtera' di dalam Galatia 5:22. Mengapa demikian? Karena hanya Allah saja di dalam dan melalui Yesus Kristus yang sanggup memberi tidak hanya damai tetapi juga jaminan akan kedamaian itu.  Kata Damai itu menunjukkan kepada pemulihan dan kata Sejahtera menunjukkan jaminan keamanan (security), keselamatan (safety).  Disinilah terletak arti Damai yang sesungguhnya !

Dalam menyambut momentum Natal dan pergantian tahun ini mari makin menghayati arti damai sejahtera yang sesungguhnya. Begitu banyak cerita ketidakdamaian justru bertebaran seperti jamur di musim hujan ketika berita damai itu sendiri sedang ada ditengah-tengah kita. Ketika PD II berkecamuk di Perancis pasukan AS berhadap-hadapan dengan pasukan Jerman. Waktu itu musim dingin. Kedua belah pihak siap siaga di parit penjagaan mereka masing-masing. Jarak kedua pasukan ini hanya beberapa puluh meter saja. Suasana begitu tegang dan mencekam. Tiba-tiba di kesunyian malam itu terdengarlah lagu “Malam Kudus”. Para prajurit yang sedang siap saling bunuh itu tertegun dan berpandang-pandangan. Benar sekali! Ini tanggal 24 Desember, malam natal ! Lalu para prajurit itupun mulai ikut bernyanyi. Beberapa prajurit Amerika keluar dari parit persembunyian mereka dan di susul oleh para prajurit Jerman. Mereka saling berangkulan. Tentara Amerika bernyanyi “Silent night, Holy night” sementara tentara Jerman bernyanyi “Stille Nacht, Heilige Nacht” (Stille Nacht, Heilige Nacht – Alles schlaft, einsam wacht – nur das traute, hochheilige Paar – holder Knabe im lokkigen Haar – schlaf in himmlischer Ruh). O ! Rasa haru dan gembira memenuhi hati mereka. Mereka mengeluarkan makanan dan saling bertukar cindera mata. Besoknya kedua pasukan yang bermusuhan itu bermain sepak bola bersama. Sepanjang hair mereka bergembira. Tetapi setelah itu para prajurit tersebut terpaksa kembali ke parit masing-masing. Mereka menerima perintah untuk bertempur lagi. Maka kedua pasukan inipun mulai saling tembak. Natal berakhir damaipun berakhir.  Tahun yang akan segera berganti dalam beberapa hari ke depan menjadi bertambah suram dan tidak lebih baik dari tahun sebelumnya.

Barangkali saat ini kita juga sedang bertanya-tanya, “Tetapi bagaimana saya bisa menikmati damai sejahtera yang sesungguhnya di dalam dunia ini? Sedangkan setiap hari saya mendengar kisah-kisah yang merampas damai nurani yang terbungkus dalam permasalahan dan peperangan terhadap korupsi, pertikaian dan konflik karena merasa tidak aman, disisihkan, tidak diterima dan diperlakukan tidak adil ditanah sendiri, makin menjadi-jadinya ketimpangan hukum dan moral disana-sini secara kualitatif? Bagaimana saya bisa merasakan damai sejahtera yang sebenarnya?”

Realita harus merupakan tempat kita berpijak. Semua ini harus menyadarkan sisi kemanusiaan kita yang paling dalam. Kegelapan dosa telah menyebabkan tidak ada satupun upaya menciptakan damai sejahtera yang sempurna di bumi ini. Kita harus belajar untuk menerima bahwa setiap hari adalah perjuangan yang tanpa akhir untuk menegakkan damai sejahtera. Tidak sempurna memang. Tetapi meskipun demikian, setiap kita dimungkinkan untuk tetap memiliki dan menikmati damai sejahtera yang sempurna didalam hati kita ditengah suasana yang bagaimanapun ruwetnya. Bila kita memiliki dan ada didalam sang Sumber damai sejahtera yang sesungguhnya, kita tetap dapat mengalami dan menikmati suka cita ditengah benang kusut perjalanan damai sejahtera yang berupaya kita luruskan. Karena damai sejahtera yang kita miliki sudah tidak lagi bergantung kepada damai sejahtera manusiawi dan duniawi tetapi kepada damai sejahtera surgawi dan damai sejahtera ilahi. Inilah yang memampukan kita untuk melewati tahun-tahun suram kehidupan fisik dan menyambut tahun-tahun dimana sinar pengharapan tetap ada. Sang Sumber damai sejahtera yang sesungguhnya itu akan selalu menyediakan penyertaan, penghiburan, kekuatan, ketekunan, ketangguhan dan semangat yang akan tetap menyala melewati realita hidup ditengah dunia yang memang tidak akan pernah dapat menciptakan damai sejahtera yang sempurna bagi kita.

Tetaplah semangat menyambut kehidupan dihadapan sang Pencipta! Jadilah pembawa damai melalui-Nya.