Rabu, 06 April 2011

BERKHOTBAH DI TENGAH ZAMAN KONTEMPORER

oleh Pdt. Yarman Halawa, D.Min


Batasan pengertian
Yang dimaksud dengan istilah ‘kontemporer’ dalam makalah ini adalah “kecenderungan zaman modern masa kini yang dipenuhi dengan berbagai kondisi dan berbagai gagasan baru yang bersifat temporal.”[1]

Berdasarkan ini maka makalah ini bertujuan untuk mengundang setiap pembaca khususnya para penyampai Firman Tuhan untuk tetap setia, cermat dan memelihara kemurnian isi kebenaran Firman ditengah berbagai arus dan tantangan zaman modern masa kini.


PENDAHULUAN
Bagaimana caranya seorang pengkhotbah menghadirkan pesan berita religius secara khusus yang kental dengan pemikiran-pemikiran jaman kuno untuk menjadi relevan dengan konteks masa kini (kontemporer)?[1] Ini merupakan pertanyaan yang serius yang harus dapat dijawab oleh setiap penyampai firman kebenaran. Dunia kontemporer memberi tantangan tersendiri khususnya dalam melaksanakan tugas dan panggilan penyampaian dari Firman Allah yang pada hakekatnya tidak pernah berubah dan tidak mengenal kompromi dengan segala kondisi dan gagasan baru yang bersifat temporal yang mempengaruhi kehidupan manusia masa kini.

Patut diingat bahwa sebenarnya dilema yang dihadapi oleh gereja sehubungan dengan tugas penyampaian Firman Tuhan pada hari ini bukanlah sesuatu yang baru. Dalam setiap era didalam sejarah yang ditandai dengan perubahan waktu, ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan manusia, penyampaian Firman Tuhan mengalami tantangan tersendiri khususnya bagi para penyampai Firman Tuhan itu sendiri. Namun kita patut bersyukur kepada Allah yang Empunya Firman bahwa didalam setiap era tersebut umat Allah yang sejati senantiasa dikaruniakan kemampuan yang lebih dari cukup untuk dapat terus mengkomunikasikan Firman Allah tanpa mengkompromikan kebenarannya.

Memang banyak orang yang mulai mempertanyakan relevansi khotbah dalam zaman kontemporer ini. Sebagian orang malah menganggap khotbah tidaklah lebih sebagai ‘gaung masa lalu yang sudah ditinggalkan’[2] atau dengan kata lain sudah tidak lagi up to date. Sikap ini seringkali mempengaruhi orang-orang percaya secara psikologis terutama para penyampai Firman kebenaran sehingga berupaya menciptakan atau mengikuti berbagai metode dan gaya penyampaian firman yang “baru” atau yang sesuai dengan gaya hidup, keinginan, dan harapan orang masa kini. Justru ini sangat berbahaya oleh karena pada akhirnya justru ‘berita’ yang seharusnya menjadi sentral dalam khotbah digantikan oleh hal-hal yang bersifat artificial yang seharusnya berada ditempat paling bawah.[3]  John Stott mengomentari keadaan ini sebagai strategi Iblis untuk mematahkan dan melemahkan pekerjaan penyampaian Firman untuk mencapai hasil gemilang:

“As a result of which he (devil) has won a strategic victory. Not only has he effectively silenced some preachers, but he has also demoralized those who continue to preach. They go to their pulpits ‘as men who have lost their battle before they start; the ground of conviction has slipped from under their feet.”[4]


PENGKHOTBAH, BERITA KHOTBAH DAN PERTUMBUHAN GEREJA[5]
Bila khotbah tidak diletakkan sebagai bagian yang utama dari kehidupan bergereja, maka gereja pasti akan kehilangan hartanya yang paling berharga yang menjadi sumber otoritas dan otentitasnya. Tidaklah berlebihan bila reformator Martin Luther pernah berkata bahwa harta gereja yang sebenarnya adalah Injil yang Mahasuci tentang kemuliaan dan kemurahan Allah.[6]

Dalam sejarahnya, eksistensi dan pertumbuhan gereja tidak pernah terlepas dari pemberitaan Firman. Sejarah gereja mencatat bahwa khotbah selalu mendominasi kehidupan gereja.[7] Atau dengan kata lain, tanpa pemberitaan Firman yang benar maka gereja tidak akan pernah mengalami pertumbuhan yang benar pula dan pasti akan kehilangan arah.[8] Kecenderungan gereja pada hari ini yang mengutamakan bagian-bagian dalam ibadah seperti puji-pujian lebih dari pada khotbah harus dihindari. Gereja bertumbuh bukan karena musik atau puji-pujian yang dahsyat sekalipun tetapi oleh pemberitaan Firman Tuhan yang benar dan bertanggungjawab.[9] Dengan demikian, khotbah selalu menjadi prioritas dari pelayanan guna pertumbuhan gereja Tuhan yang benar dan sehat seturut ajaran Alkitab sebagaimana telah dilakukan oleh para rasul pada zaman mereka.[10]

Pemberitaan Firman menjadi begitu penting dan sentral bagi kehidupan bergereja yang sehat. Tidak lagi diragukan bahwa Alkitab memandang bahwa para pemberita Firman memiliki peran yang penting didalam rencana Allah untuk membawa gereja mengalami pertumbuhan yang benar kepada-Nya.  Rasul Paulus menuliskan,

“Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?  Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”[11]

Dalam pengertian ini maka pemberitaan Firman harus terus-menerus memperkenalkan, menegaskan dan mengarahkan gereja untuk bertumbuh kepada segenap karya Allah seperti penyelamatan dalam Yesus Kristus, kebaikan Allah, keadilan Allah dan seterusnya. Bahkan harus terus diberitakan didalam segala situasi, baik atau tidak baik waktunya.[12] Ditengah tantangan dunia kontemporer para pemberita Firman dipanggil untuk setia dalam mempertumbuhkan gereja kepada kebenaran yang murni dan tidak boleh dihentikan oleh alasan apapun juga. Para tokoh gereja baik yang hidup sebelum maupun sesudah zaman Reformasi, begitu memandang tinggi dan mengutamakan Firman Tuhan.  John Wycliffe mengatakan bahwa tugas utama pendeta adalah berkhotbah.[13] Bagi Calvin, disamping Sakramen, Firman Allah yang dikhotbahkan dengan murni dan didengar, menjadikan gereja milik Allah itu tetap eksis.[14] Demikian juga Luther meyakini bahwa apa yang ia lakukan yakni membuka zaman Reformasi yang begitu penting bagi dunia kekristenan sebagai karya Firman.[15]

Tidak dapat diragukan lagi bahwa kekristenan dan gereja tidak akan ada tanpa kehadiran Firman. Tugas utama dari para hamba Tuhan adalah menghadirkan Firman, sehingga berkhotbah akan senantiasa menjadi bagian yang amat penting dari tugas panggilan hamba Tuhan. Ini harus tetap menjadi perhatian serius ditengah zaman kontemporer ini.  Persoalannya adalah: “Khotbah macam apa yang dihadirkannya didalam gereja? Apakah khotbah yang tetap setia kepada kebenaran-kebenaran yang murni dari Alkitab atau  kepada apa yang manusia kontemporer anggap sesuai, cocok, dan up to date dengan keinginan dan kemauan mereka?[16] Apakah khotbah yang disampaikan benar-benar bertanggungjawab, didasari oleh keyakinan yang absolut terhadap kebenaran absolut Firman? Apakah kemampuan berkhotbah lebih digantungkan kepada kepiawaian artificial atau bergantung kepada Allah dengan mengandalkan Roh Kudus-Nya?”

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka beberapa pemikiran berikut ini perlu menjadi pertimbangan penting:

1.      Sola Scriptura
Rasul Paulus menegaskan kepada hamba Tuhan bernama Timotius  agar “memberitakan Firman.”[17]  Dengan kata lain bahwa yang diberitakan dalam khotbah adalah Firman Tuhan. dan ini harus dilakukan dengan setia dan penuh tanggungjawab. Hal ini sangat jelas terlihat dari penekanan yang bukan berbentuk permintaan melainkan berbentuk perintah kepada Timotius. Hal ini patut kita camkan dalam pelayanan kita  ditengah zaman kontemporer ini. 

Prinsip formal Reformasi adalah Sola Scriptura dimana Reformator gereja menampakkan otoritas ekslusif dari Alkitab atas semua opini, tradisi, dan produk-produk kontemporer masa itu yang mempengaruhi dan bahkan menguasai gereja, dan memanggil gereja untuk berkomitmen kepada Sola Scriptura. Firman Allah menjadi satu-satunya pedoman pembimbing dalam mempermuliakan serta memperkenankan Allah.[18] Dengan demikian implikasi praktisnya adalah bahwa Firman Allah harus diletakkan ditempat yang tertinggi dan tidak boleh digantikan oleh yang lain-lain, baik itu berupa kharisma, pribadi, popularitas, kemampuan berbicara, intelektualitas dan opini pribadi, filsofi-filosofi yang sifatnya humanis maupun produk-produk canggih dari zaman kontemporer yang ada.[19] Senada dengan ini, Sydney Greidanus menggarisbawahi kebenaran ini dengan mengatakan,

“Accordingly, if preachers wish to preach with divine authority, they must proclaim the message of the inspired Scriptures, for Scriptures alone are the Word of God written: the Scriptures alone have divine authority.  If preachers wish to preach with divine authority, they must submit  themselves, their thoughts and opinions, to the Scriptures and echo the Word of God.”[20]

Dalam terang Sola Scriptura inilah, setiap pemberita Firman harus mampu memelihara dan terus-menerus menunjukkan integritasnya terhadap berita yang  disampaikannya. John Calvin menegaskan,

 “Maka marilah kita tetapkan ini sebagai suatu azas yang pasti, yaitu hendaklah tidak ada didalam gereja yang dipandang dan diberi tempat sebagai firman Allah kecuali apa yang tercantum didalam Taurat dan kitab-kitab para nabi, dan selanjutnya didalam tulisan-tulisan para rasul; dan hendaklah tidak ada cara lain untuk memberi ajaran dengan sah didalam gereja, kecuali sesuai dengan perintah dan pedoman firman itu.”[21]

2.      Truth (Kebenaran)
Berkhotbah adalah memberitakan kebenaran, dimana pemberita Firman bukan membawakan kebenaran yang berasal dari dirinya sendiri. Seorang Pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk menyampaikan kepada pendengarnya sebuah gambar yang lebih besar tentang Allah (Theocentric / Christosentric). Berkaitan dengan pelayanan mimbar rasul Paulus menegaskan:

“Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.”[22]

Oleh sebab itu perlu senantiasa menanyakan kepada diri sendiri hal-hal seperti: Apakah khotbah yang saya sampaikan memperkenalkan dan meninggikan Allah terus-menerus? Apakah khotbah yang saya sampaikan dibangun diatas dasar disiplin pengajaran dan teologia yang benar atau tidak? Apakah saya menyampaikan khotbah dengan hati yang tulus? Apakah ada hal-hal terselubung disana seperti ingin memamerkan pengetahuan, mengungkapkan kekecewaan atau kemarahan yang dikemas dalam khotbah?  Bagaimana dengan ilustrasi yang disisipkan dalam khotbah, apakah itu pengalaman orang lain yang diakui sebagai seolah-olah pengalaman sendiri? Apakah cerita yang disampaikan berupa fakta atau karangan sendiri? Semua ini harus jelas asal-usulnya dan tidak boleh dimanipulasi. Apakah khotbah yang disampaikan disiapkan secara murni dan digumulkan sungguh-sungguh hingga pemberitaannya atau tidak? Apakah khotbah yang disampaikan menantang pendengar untuk kembali kepada kebenaran yang sejati? 

Pada hari ini kita para pengkhotbah banyak disuguhi aneka macam metode, gaya dan strategi bagaimana menjadi pengkhotbah yang sukses,[23] namun kehilangan esensi penting dari sebuah panggilan Allah untuk setia memberitakan firman-Nya ditengah dunia yang selalu berubah-ubah dan tidak menentu dengan kecenderungan utama terhadap kebergantungan kepada hal-hal yang bersifat sementara.

Berkaitan dengan truth (kebenaran) yang mewarnai pelayanan khotbah; maka, setiap pemberita Firman harus mengingat beberapa hal berikut ini:

Pertama, seorang pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk melatih pendengarnya kembali kepada kebenaran-kebenaran Alkitab dalam menghadapi berbagai asam garam kehidupan mereka. Paulus menegaskan,

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.[24]

Seorang pengkhotbah juga harus berkeyakinan teguh bahwa Firman Allah sanggup meyakinkan umat Allah yang sejati untuk tetap berpegang teguh kepada kebenaran. Oleh sebab itu seorang pengkhotbah yang berdiri dalam kebenaran berkewajiban penuh untuk berupaya sekuat tenaga untuk menunjukkan kepada pendengarnya bagaimana membaca, mempelajari dan memegang ajaran kebenaran Alkitab bagi kehidupan mereka.  

"Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.[25]
Selain itu, seorang pengkhotbah berkewajiban mutlak untuk mengajarkan seluruh bagian Alkitab dan menunjukkan betapa unik dan ajaibnya setiap kebenaran yang didapat darinya. Sekaligus harus menantang pendengarnya memberi respon untuk hidup dalam penghayatan nyata terhadap kebenaran yang disampaikan kepada mereka sebagaiman Alkitab sendiri tegaskan, 
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”[26]  

Sehingga pada akhirnya setiap orang yang mendengar pemberitaan Firman -dalam hal ini tentunya juga termasuk yang menyampaikan atau si pemberita Firman- akan senantiasa menghayati secara nyata kebenaran Alkitab yang ‘kuno’ namun merupakan kebutuhan yang amat penting ditengah zaman kontemporer ini bagi kehidupannya: 
"Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu …”[27]
 
3.      Kebutuhan (Needs)
Tidak dapat dipungkiri bahwa berita Injil kebenaran adalah berita kesukaan, dan oleh sebab itu berita yang disampaikan harus membawa kesukaan yakni kesukaan yang utuh, bukan kesukaan yang memanjakan, yang kompromi dengan zaman atau keinginan para pendengar semata-mata, karena hal ini justru akan mencelakakan. Maka khotbah yang menjawab tantangan  zaman kontemporer hari ini tidak boleh hanya disusun di atas meja saja tetapi juga harus melalui pengamatan dan pendekatan, sehingga sungguh-sungguh menyentuh kebutuhan nyata jemaat. Inilah yang dimaksudkan dengan khotbah yang relevan. Apabila kita perhatikan, para pengkhotbah yang dipakai Tuhan secara luarbiasa pada zamannya selalu berbicara mengenai kebutuhan manusia, termasuk problema dari kehidupan para pendengar mereka.[28] Dengan demikian khotbah menjadi hadir secara nyata ditengah-tengah pendengarnya.[29]

Secara sederhana, kebutuhan pendengar terhadap berita firman dapat dikategorikan dalam 2 kelompok yakni kebutuhan dasar (bersifat materi) dan kebutuhan pertumbuhan (yang bersifat non-materi):[30]
a.       Kebutuhan dasar yang mencakup fisik dan jaminan keamanan.
b.      Kebutuhan pertumbuhan yang mencakup kasih, harga diri dan aktualisasi diri, dimana aktualisasi diri meliputi kebenaran, kebaikan, keadilan, ketaraturan dan sebagainya.

Kedua kelompok kebutuhan ini perlu menjadi pertimbangan dalam khotbah, dimana penekanan yang terutama / terpenting adalah pada kebutuhan akan pertumbuhan yang bertujuan membawa pendengar kepada aktualisasi diri yang akan memperlihatkan dengan jelas kedewasaan kristiani dari para pendengar yang nyata melalui makna yang mereka berikan dalam kehidupan bergereja / berjemaat.

Disamping itu berita Firman tidak boleh kontroversial dalam arti tidak memperhatikan problem yang sedang dihadapi oleh jemaat. Contoh: penyampaian khotbah dengan topik “seluruh muka bumi dipenuhi kemuliaan-Nya”[31] padahal kenyataan sedang terjadi banjir bandang yang menghancurkan dan menewaskan begitu banyak orang, atau gunung Merapi yang meletus yang mengakibatkan kesedihan yang luarbiasa atau bencana gempa Tsunami yang menyisakan kepedihan yang amat dalam. Topik “pemeliharaan Allah yang ajaib” sementara kenyataannya ada diantara mereka yang sedang menjalani kehidupan yang buruk, seperti sakit tumor yang parah atau kanker ganas.  Atau misalnya topik “Berdua lebih baik daripada seorang diri” dalam momen pemberkatan pernikahan yang disampaikan dengan kurang mempertimbangkan perasaan dari mereka yang hidup sendiri, yang entah karena tidak mau menikah atau karena kesulitan mendapatkan teman hidup yang dianggap sesuai.
 
Untuk menjadikan sebuah khotbah tetap relevan dan berbicara kuat dalam ranah kehidupan jemaat yang serba kompleks pada hari ini; maka, pemberita Firman harus sungguh-sungguh mengenal jemaat yang dilayaninya. Untuk memenuhi hal ini seorang pemberita Firman kebenaran dapat mengenali kebutuhan-kebutuhan mereka melalui sharing tentang pengharapan dan ketakutan, kegelisahan atau kekhawatiran mereka, kesuksesan dan kegagalan, kesukaan dan kesedihan, kepahitan dan aspirasi dari umat yang dilayaninya.

Patut diingat bahwa hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari anggota jemaat dari pada hamba Tuhan tamu. Dalam kaitan dengan inilah Rasul Paulus sendiri menganggap hubungannya dengan anggota jemaat seperti hubungan seorang ibu dengan anaknya. Kepada jemaat Tuhan di Tesalonika ia berkata,

"Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya."[32]

Bila seorang ibu berkewajiban dalam menyusui bayinya; maka, demikian juga seorang hamba Tuhan yang bertanggung-jawab, akan memandang bahwa "berkhotbah" adalah tugas yang sangat penting, sehingga ia tidak akan dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada orang lain. Ia akan secara sistematis berdasarkan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan kebutuhan mengajar dan membina para anggota jemaatnya.


INTEGRITAS DIRI SEORANG PENGKHOTBAH
Berikut ini adalah beberapa uraian sederhana yang berkaitan dengan integritas diri seorang pemberita Firman dalam berkhotbah ditengah zaman kontemporer ini:

Setia Kepada Alkitab
Seorang pemberita Firman yang bertanggungjawab akan senantiasa menyadari bahwa Alkitab adalah satu-satunya buku yang dapat menjadi sumber khotbahnya. Ia melihat bahwa hanya Alkitab yang memiliki otoritas ilahi. Oleh sebab itu, ia hanya akan mengkhotbahkan apa yang tertulis dan yang dikatakan dalam Alkitab. Dengan menjadikan Alkitab sebagai sumber khotbahnya, maka ia telah menempatkan Alkitab sebagai sumber otoritasnya dan ia akan memiliki otoritas ilahi di dalam khotbahnya.

Berita Firman dibangun diatas dasar filosofi bahwa Alkitab menjadi sumber khotbah dan oleh sebab itu, pengkhotbah wajib menguraikan arti teks tersebut di sepanjang zaman. Alasannya, pengkhotbah bukan berkhotbah dengan otoritasnya, tetapi dengan otoritas Allah. Oleh sebab
itu, ia harus dan hanya mengkhotbahkan firman Allah sebagai berita khotbahnya.[33] Haddon W. Robinson mengatakan,

“. . . the preacher speaks with an authority not his own, and the man in the pew will have a better chance to hear God speak to him directly.”[34]

Dalam kaitan dengan teks Alkitab yang menjadi bahan khotbahnya, seorang pengkhotbah harus tetap menguraikan teks Alkitab yang menjadi dasar khotbahnya, entah apakah teks itu panjang atau pendek. Dalam pengertian ini, maka seorang pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu ayat (yang menurut beberapa ahli disebut sebagai khotbah tekstual). Seorang pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu perikop Alkitab (yang juga sering disebut sebagai khotbah ekspositori). Ia juga dapat mengkhotbahkan topik-topik tertentu (yang disebut sebagai khotbah topical), khususnya yang berkaitan dengan doktrin Kristen, dan seterusnya.

Bersandar dan Mengakui Kuasa Roh Kudus
Seorang pemberita Firman yang benar akan semakin bersandar pada kuasa Roh Kudus. Para pengkhotbah yang menyampaikan berita Alkitab akan menyadari bahwa ia memerlukan kuasa Roh Kudus agar jemaat bisa mengerti apa yang menjadi berita dari Allah untuk umat-Nya. Ia menyadari bahwa kuasa manusia tidak akan dapat membuat manusia lain tunduk pada kebenaran Allah. Hanya Roh Kudus yang dapat membuat manusia melihat Allah. Oleh sebab itu, para pengkhotbah harus bergantung dan bersandar kepada kuasa Roh Kudus. Tanpa kuasa Roh Kudus, tidak akan ada nilai kekal yang tercapai walaupun mungkin ada banyak orang yang mengagumi daya persuasi, menikmati ilustrasi khotbah atau belajar doktrin dari sang pengkhotbah.[35] Hal ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan konsep mimbar seorang pengkhotbah. John Piper mengatakan bahwa seorang pengkhotbah perlu menyadari dan mengakui trinitarian khotbah, yaitu tujuan khotbah adalah kemuliaan Allah, berita khotbah adalah salib Kristus, dan kuasa khotbah adalah kuasa Roh Kudus.[36]

Peran Roh Kudus dalam berita Firman sangatlah penting dan menjadi kunci pemberitaan Firman yang efektif oleh karena Ia mengajar apa yang Yesus katakan (Yohanes 14:24), menghibur, menginsyafkan tentang dosa dan kebenaran (Yohanes 16:7,8), menolong umat  yang dalam kelemahan (Roma 8:26), menguatkan (Efesus 3:14-16), memberi dorongan pemberitaan Firman dan berdoa (Kisah Para Rasul 6:10; 1 Kor 2:13; 2 Korintus 4:13), dan seterusnya. Tidak ada satu khotbahpun yang dianggap layak dihadapan Allah bila tanpa intervensi dari kuasa Roh Kudus.  Pierre Ch. Marcel benar ketika menegaskan bahwa,

“Preaching, which is, properly speaking, the word preached, depends entirely on the Spirit…if the Spirit is absent, there is, in a manner of speaking, a sermon, but no preaching.  The word of God will not be heard, but a word of man, dead, and therefore irrelevance.”[37]

Dengan demikian, seorang pengkhotbah akan menyadari bahwa tugasnya hanyalah sebagai juru bicara Allah. Jika khotbahnya membawa seseorang berbalik kepada Allah, ia harus menyadari bahwa bukan dirinya sendiri yang membuat orang-orang tersebut bertobat. Mereka percaya karena Roh Kudus bekerja di dalam hati mereka.[38] Namun, seorang pengkhotbah juga tidak akan berkecil hati jika ia tidak melihat hasil apapun dari khotbahnya. Ia tahu bahwa hanya Roh Kudus yang membuat seseorang berbalik kepada Allah. Ia akan tetap setia melakukan tugasnya sebagai pengkhotbah.[39]

Menghormati Jabatan Sebagai Pemberita Firman
Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster Chapel, Inggris, Dr. Martyn Llyod-Jones, pernah mengatakan demikian,

"Menurut hematku, 'berkhotbah' adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan yang ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen adalah khotbah yang benar dan sejati." (Lebih lanjut ia mengatakan), "Pekerjaan 'penyampaian Firman' tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar, yang patut digandrungi, yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan pekerjaan yang paling ajaib."[40]

Perkataannya tersebut diatas membuktikan betapa seorang pemberita Firman (yakni seorang hamba Tuhan dengan panggilan yang jelas), adalah seorang yang berdiri diantara Allah dan manusia, dan oleh sebab itu seyogyanyalah bila ia menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah juru bicara Allah dan bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak akan berani menganggap "berkhotbah" sebagai satu "pekerjaan", sehingga dirinya disebut tidak lebih sebagai seorang "tukang khotbah" entah dalam pengertian professional atau amatiran. Melainkan ia akan sungguh berjuang dengan pertolongan Roh Kudus untuk menunjukkan kehidupan panggilan yang sepadan dengan jabatan itu.  Martyn Llyod Jones mengingatkan demikian,

“Our lives should always be the first thing to speak: and if our lips speak more than our lives it will avail very little. So often the tragedy has been that people proclaim the gospel in words, but their whole life and demeanour has been a denial of it.”[41]

Justru seorang pemberita firman yang menghormati jabatan tersebut akan senantiasa dipenuhi melainkan dengan sikap yang gentar dan takut dihadapan Tuhan, karena dipenuhi dengan pergumulan dan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menjalani kebenaran Firman yang senantiasa ia sampaikan kepada jemaat yang mendengarnya.  

Jiwa Yang Antusias Terhadap Kehidupan Para Pendengar
Seorang pemberita Firman kebenaran yang sesungguhnya akan benar-benar menyadari bahwa pada waktu ia berdiri di mimbar, ia sedang “mengurus’ masalah antara hidup kekal dan mati kekal, dan bahwa ia berdiri di antara orang yang hidup dan mati. Dr. Forsyth member penegasan terhadap kebenaran ini demikian,

“It is an act and a power: it is God’s act redemption…A true sermon is a real deed…The preacher’s word.  When he preaches the gospel and not only delivers a sermon, is an effective deed, charged with blessing or with judgment.”[42]
Kesadaran ini akan membawa kepada suatu pengertian bahwa berkhotbah bukanlah hanya sekedar sesuatu yang sekedar disampaikan dari mimbar, melainkan menuntun kepada antusiasme yang amat sangat bagi kehidupan para pendengarnya dihadapan Allah. Oleh karena itu seorang pemberita Firman yang baik akan memiliki sikap yang terus terang didalam menyampaikan kebenaran-kebenaran yang Allah kehendaki diketahui dan direspon oleh para pendengar Firman-Nya.  Hal ini akan sangat bermanfaat bagi gereja, pelayanan dan terutama kehidupan rohani para pendengar Firman. Dengan demikian menghindarkan gereja atau orang percaya dari sikap yang mudah terombang-ambing oleh berbagai tawaran dari gerakan-gerakan rohani kontemporer yang menawarkan “solusi instant” bagi persoalan-persoalan kehidupan yang mereka alami. Gereja dan kehidupan jemaat menjadi kuat, sehat, dan tangguh dalam terang kebenaran Firman yang benar.

Gereja masa kini memerlukan para pemberitaan Firman yang utuh. Salah satu contoh praktis misalnya adalah ketika berbicara mengenai pengudusan (sanctification); maka, seorang pemberita Firman yang baik kan berterus terang menyampaikan bagaimana seharusnya orang-orang percaya yang sejati berjalan didalam kehidupan yang kudus, pelayanan, ketaatan,  penyangkalan diri, sikap hidup yang takut akan Allah, kehidupan doa yang benar dan bagaimana seharusnya menjadi murid Kristus hidup didalam iman dan pertobatan yang sejati. Juga berbicara dengan terus terang mengenai kebenaran dari konsekwensi kekal dari kehidupan yang tidak memberi tempat bagi kebenaran Firman.[43]

Kesungguhan Didalam Belajar Makin Berkenan
Seorang pemberita Firman kebenaran harus senantiasa menuntut diri untuk terus maju dan meningkatkan kemampuannya. Memang didalam berkhotbah, kemampuan tidaklah menjadi pemeran utama atau sebagai penentu utama, namun tetap menjadi factor yang penting. Martin Lloyd-Jones mengatakan,

“As preaching means delivering the message of god in the way which he have described…it obviously demands a certain degree of intellect and ability.  So if a man lacks a basic minimum in that respect, he is clearly not called to be a preacher.”[44]

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang pemberita Firman kebenaran yang rindu khotbahnya mampu membangun dan memberi dorongan pada sidang jemaat yang dilayaninya, adalah tidak dapat mengabaikan usaha dalam merawat dan meningkatkan kemampuan intelektualnya.

Kesalahan banyak pengkhotbah -dan juga gereja dalam pengertian komunal- pada hari ini adalah kurangnya keinginan yang kuat dan komitmen untuk meng-upgrade kemampuan diri. Situasi dan kondisi ladang pelayanan sekali-kali tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menuntut diri. Dalam pengertian ini, untuk makin berkenan dihadapan Tuhan dan agar kebenaran Firman makin nyata ditengah kehidupan bergereja; maka, seorang pemberita Firman dan termasuk jemaat yang dilayani  harus makin bersungguh-sungguh didalam belajar meningkatkan kemampuan mengajar Firman dan kemampuan didalam menyerap kebenaran firman yang disampaikan. Disamping tentunya, rajin membaca Alkitab dan berdoa, rajin membaca buku-buku rohani yang bermutu tinggi[45] dan buku-buku lain yang dapat dipertanggungjawabkan yang dianggap bisa menambah wawasannya dan meningkatkan intelektualitasnya; seorang pemberita Firman juga perlu rajin berada ditengah jemaatnya[46] sehingga dengan demikian ia memperoleh pengetahuan tambahan yang bersifat praktis oleh karea ia mengetahui secara jelas kebutuhan rohani dari individu maupun keluarga anggota gerejanya.  


PENUTUP DAN KESIMPULAN
Berkhotbah ditengah zaman kontemporer ini merupakan tugas yang amat mulia bagi setiap pemberita Firman kebenaran. Ditengah dunia yang semakin tidak menentu dan kecenderungan untuk mengikuti kebinasaan yang ditawarkannya, para pemberita Firman kebenaran harus tetap berdiri memproklamasikan berita kebenaran yang bukan saja hanya berupa janji kehidupan kekal didalam Yesus Kristus Tuhan, tetapi juga memproklamasikan kehidupan yang penuh pengharapan, kekuatan dan kehidupan yang berani menghadapi realita masa kini dan masa depan bersama dengan Tuhan.

Oleh karena itu, setiap pengkhotbah patut menjaga kesetiaan untuk mengkhotbahkan Alkitab sebagai berita Allah yang tidak pernah berubah ditengah dunia dan peradaban manusia yang terus-menerus berubah. Dalam hal ini juga dituntut kesetiaan seorang pengkhotbah untuk menguraikan berita Alkitab dan mengkhotbahkannya tanpa mengkompromikannya dengan keinginan dan kehendak zaman ini. Patut juga diingat, kecenderungan untuk menjadikan Alkitab sebagai sesuatu yang tidak lebih dari pada “stempel pengesahan” dari suatu khotbah yang justru sama sekali tidak memproklamasikan apa yang menjadi kehendak Allah untuk ditaati dan dilaksanakan dalam kehidupan umat, harus dibuang jauh-jauh. Demikian juga, kecenderungan untuk menjadikan Alkitab sebagai sekedar dari sebuah “pendahuluan khotbahsaja, juga harus dibuang jauh-jauh.

Disamping itu, ditengah kompleksnya tantangan yang dihadapai dalam zaman kontemporer ini terhadap kehidupan Kristen, setiap pengkhotbah dipanggil untuk memiliki kesungguhan dalam berkhotbah. Ia adalah juru bicara Allah yang harus sungguh-sungguh mempersiapkan khotbah yang akan disampaikannya dengan selalu bersandar kepada kuasa Roh Kudus. Ia memikul tanggung jawab ilahi untuk menyampaikan berita ilahi, demi kepentingan ilahi dalam kehidupan umat-Nya. Dan oleh karenanya ia juga harus memiliki jiwa yang antusias terhadap mereka.

Dan terakhir, setiap kita patut menyadari bahwa berkhotbah ditengah zaman ini merupakan sebuah tugas yang yang mulia. Oleh karena itu setiap kita, para pengkhotbah, yang dipercaya untuk menjadi utusan-utusan Allah bagi misi-Nya ditengah dunia diingatkan sekali lagi untuk selalu memastikan bahwa pelaksanaan tugas yang diemban ini memberi dampak yang benar dan tepat baik pada masa sekarang ini, maupun pada yang akan datang hingga kekekalan. dan meskipun tidak semua pembawa berita Firman kebenaran dipanggil oleh Allah untuk menjadi pengkhotbah “besar,” semua pengkhotbah berita kebenaran dipanggil untuk mengkomunikasikan Firman dengan baik. Maka tidak ada jalan lain bagi kita selain dari pada senantiasa memastikan bahwa berita yang kita sampaikan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang hingga kedalam kekekalan.


Fides Quaeraens Intelectum



Daftar Referensi Pustaka


Allah, TUHAN, Alkitab.

Beeke, Joel R., Puritan Evangelism: A Biblical Approach. Grand Rapids: Reformation Heritage Books, 1999.

Calvin, John Institutio. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.

Comfort, Earl V.,  Is the Pulpit a Factor in Church Growth” Bibliotheca Sacra 140/157, 1983.

Dale, Robert D., Pastoral Leadership.  Nashville: Abingdon Press, 1986.

David Watson, I in Church (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987), p. 199.

Forsyth, P.T., Positive Preaching and The Modern Mind. Independet Press, 1907.

Farm, Herbert H., The Servant of The Word.  Philadelphia: Fortress, Press, 1964. 

Greidanius, Sydney, The Modern Preacher and The Ancient text: Interpreting and Preaching Biblical Literature.
             Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans Publishing Company, 1988. 

Hornby, A.S., Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. Oxford: Oxford Univeristy Press, 
             1987.

Lloyd-Jones, D. Martyn,  Preaching and Preachers. Grand Rapids: Zondervan, 1972.

Lloyd-Jones,Martyn, Studies in The Sermon on The Mount, Volume 1. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans   
            Publishing Company, 1959.

Massey, James Earl, The Sermon in Perspective: A Study of Communication and Charisma. Grand Rapids: 
            Baker Book House, 1976.

Marcel, Pierre Ch., The Relevance of Preaching. Grand Rapids: Baker Book House, 1963.

Piper, John, The Supremacy of God in Preaching. Grand Rapids: Baker Book House, 1990.

Packer, J.I.,  Evangelism and Sovereignty of God. Downers Grove: Inter Varsity Press, 1961.

Robinson, Haddon W., Biblical Preaching: The Development and Delivery of Expository Messages. Grand  
              Rapids: Baker Book House, 1980

Stott, John R.W.,  I Believe in Preaching. London: Hodder and Stoughton, 1982.

Williamson, G.I., Katekismus Singkat Westminster 1. Surabaya: Momentum / LRII, 1999. Judul asli: The  
              Shorter  Catechism for Study Classes, volume 1 (New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing 
              Co., 1970).

Welsh, Clement,  Preaching in a New Key. Philadelphia: A Pilgrim Book, 1974.

WordNet 3.0 © 2003-2008 Princeton University, Farlex Incorporation.



[1]Saya memberi perhatian khusus dalam makalah ini terhadap posisi berita Firman yang disampaikan oleh seorang pengkhotbah dan bagaimana seorang pengkhotbah membawa berita pengajaran yang ‘kuno’ tetapi murni itu dapat tetap relevan dan terus-menerus menggarami dunia kontemporer saat ini tanpa menjadikan berita Firman itu sendiri kehilangan kebenaran esensinya atau di’telan’ oleh kondisi zaman masa kini. Catatan: Makalah ini merupakan materi yang disampaikan dalam Seminar Hamba-Hamba Tuhan dalam gereja-gereja dilingkup Sinode GKA di wilayah Blitar, Wlingi, Tulung Agung, Trenggalek, dan sekitarnya
[2]Clement Welsh, Preaching in a New Key (Philadelphia: A Pilgrim Book, 1974), p. 32.
[3]Misalnya: kharisma atau popularitas si penyampai firman, audiens, penampilan, style khotbah, suasana, peralatan pendukung/teknologi, dst. Harus diakui bahwa terkadang hal-hal ini juga “diperlukan” namun dalam pengertian sekali-kali tidak boleh disejajarkan dengan atau bahkan melampaui is dari berita Firman itu sendiri.
[4] John R.W. Stott, I Believe in Preaching (London: Hodder and Stoughton, 1982), p. 50.
[5] Disini penekanannya bukan pada metodologi tetapi kepada isi.
[6] Dalil ke-62 dari 95 dalili (tesis) yang dipakukan di pintu gereja Wittenberg di Jerman pada 31 Oktober 1517.
[7] D. Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids: Zondervan, 1972) 11.
[8] Earl V. Comfort, Is the Pulpit a Factor in Church Growth” (Bibliotheca Sacra 140/157, 1983), 67.
[9] Lihat David Watson, I Believe in Church (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987), p. 199. Watson menegaskan bahwa, “Although the birth of the church in Acts 2 began with praise, it continued with preaching.”
[10]Panggilan khusus yang diberikan kepada mereka adalah memberitakan Firman (Markus 3:14), setelah kebangkitan Yesus mereka di utus untuk memberitakan Injil kepada seluruh bangsa (Matius 28:19), pemberitaan Firman dilakukan dimana-mana (Markus 16:20), memberitakan Firman dengan penuh keberanian (Kisah Para Rasul 4:31).
[11] Roma 10:14-15
[12] 2 Timotius 4:1-2
[13] John Stott, I Believe in Preaching, p. 22.
[14] Ibid, p. 24.
[15] Ibid.
[16] Perhatikan 2 Timotius 4:3-5.
[17] 1 Timotius 4:2, “Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”
[18] Lihat G.I. Williamson, Katekismus Singkat Westminster 1 (Surabaya: Momentum / LRII, 1999), hal. 7.  Judul asli: The Shorter Catechism for Study Classes, volume 1 (New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1970).
[19] Lihat James Earl Massey, The Sermon in Perspective: A Study of Communication and Charisma (Grand rapids: Baker Book House, 1976), p. 110.
[20] Sydney Greidanius, The Modern Preacher and The Ancient text: Interpreting and Preaching Biblical Literature (Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans Publishing Company, 1988), p. 913. 
[21] Yohanes (John) Calvin, Institutio (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), h. 206.
[22] 2 Korintus 4:5
[23] Pengertian “sukses” ini lebih kearah hal-hal yang bersifat artificial, misalnya: kemampuan berbicara, daya tarik charisma, relasi, ukuran jumlah pendengar, dukungan teknologi, popularitas, income yang lumayan, mampu memuaskan selera pendengar, dan seterusnya. 
[24] 2 Timotius 3:16-17
[25] 2 Timotius 2:15
[26] Yakobus 1:22
[27] Ulangan 32:46-47
[28] Beberapa contoh: Amos berbicara sesuai kebutuhan dan konteks masyarakat kuno Israel, rasul Petrus berbicara pada masyarakat di zaman Pentakosta sesuai kebutuhan mereka, Martin Luther berbicara pada zaman reformasi yang menjadi kebutuhan mereka.
[29] Lihat juga Herbert H. Farmer, The Servant of The Word (Philadelphia: Fortress, Press, 1964), p. 81.
[30]Berdasarkan pembagian kebutuhan dalam konteks pelayanan gerejawi yang dikemukakan oleh Robert D. Dale dalam bukunya Pastoral Leadership (Nashville: Abingdon Press, 1986) pp. 151-153. 
[31] Yesaya 6:3
[32] 1 Tesalonika 2:7.
[33] Bukan psychology atau semacamnya yang sedang trend pada hari ini !!!
[34] Haddon W. Robinson, Biblical Preaching: The Development and Delivery of Expository Messages (Grand Rapids: Baker Book House, 1980), p. 58.
[35] John Piper, The Supremacy of God in Preaching (Grand Rapids: Baker Book House, 1990), p.39.
[36] Ibid, p. 19. 
[37] Pierre Ch. Marcel, The Relevance of Preaching (Grand Rapids: Baker Book House, 1963), pp. 91, 94.
[38] J. I. Packer, Evangelism and Sovereignty of God (Downers Grove: Inter Varsity Press, 1961), p. 113.
[39] Ibid, p. 119.
[40] Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1972), p. 33.
[41] Martyn Lloyd-Jones, Studies in The Sermon on The Mount, Volume 1 (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1959), p. 165.
[42] P.T. Forsyth, Positive Preaching and The Modern Mind (Independet Press, 1907), pp. 3,15,56.
[43] Joel R. Beeke, Puritan Evangelism: A Biblical Approach (Grand Rapids: Reformation Heritage Books, 1999), pp. 15-16.
[44] Martyn Lloyd-Jones, Preaching and Preachers, p. 111.
[45]Yang saya maksudkan dengan ‘bermutu tinggi’ disini adalah buku-buku bacaan rohani tersebut jelas ajaran dan dasar teologianya.
[46] Misalnya: perkunjungan, percakapan-percakapan dalam setiap kesempatan, dan sebagainya.


Catatan:
Setiap tindakan meng-copy makalah ini diharapkan kejujurannya untuk mencantumkan sumber asli/nama penulis.

Selasa, 05 April 2011

 
Who
Who was the real Jesus?
Do recently discovered ancient manuscripts reveal a different Jesus? Or�does the evidence reveal that the Jesus of the New Testament is the real Jesus?
www.y-jesus.com

THE REVEREND "X" vs "THE DAMNED EXCLUSIVIST" YARMAN

Rev. X : "Don't preach the Christ finality"
Yarman : "Why do you think like that?"

Rev. X : "It is worth to spread the peaceful message to everyone that not harm our 'brother and sister' from non-Christian"
Yarman : "Why do you think that the message of the Gospel must not harm non-Christian?"

Rev. X : "God loves all men that's why Christ died"
Yarman : "Are you sure that the Gospel spoke about salvation like that?"
Rev. X : "Yes. Then when we preach the Christ finality we are closing the door to them, and even we will turning Christianity to be an un-symphatic religion to them"

Yarman : "I was thinking you're not the minister of the truth"
Rev. X : (angry) "Watch your words, I don't waste my time to talk to any junior just like you, but I do this because I'm caring of you and your future"
Yarman: "I don't think so. There are no advantageous things in your advise since you want me to deny the true truth about the true future"

Rev. X : "You're a damned exclusivist ! You will not give any positive contribution to our plurality society. You will not become a blessing to them"
Yarman : "O, thank you to address me as an exclusivist. It is a great joy to hear this from you. Yes, I'm 100% an exclusivist since I believe what the Gospel has been asserting that there is no way to the salvation except in Christ alone. I'm proud to preach it and ready to pay the cost. I will not ignore our society around us which unbeliever in majority and that's why I preach it to them, the divinely caring and loving from the Gospel....."

Rev. X: "Stop! Don't be arrogant and don’t teach me ..."
Yarman: "Yes Sir, honestly, I’m not arrogant and I don't teach you and I won't. You're a senior, right? But, I just want you to know my position in this matter. I accepted the plurality but not the pluralism, I will not preach the 'grey' Gospel, I will not preach the universalism but I will commit to preach God's grace in Christ to His elected people and will commit to preach the different between hell and heaven as the Bible has taught..."

Rev. X : "So sorry to hear this from you, I just waste my time for you, you need..."
Yarman: "But I'm glad because He lead me in to this conversation as a chance to witness the Gospel to you..."

Rev. X :...... "You need to learn more, don't be a frog in a nutshell so you can see the true reality..."
Yarman: "I don't need to see the reality since it so clear to me. All I need is to see the true truth, learn to live in it, walking in it and preach it consistently as a minister of the Word"

Rev. X : (grumbling) "Then no more words to tell to you, I hope you will learn something worth..."
Yarman: "Exactly Sir, I'm learning something worth in our conversation, that is, we must clear enough in what the true message from the Gospel we should preach to this sinful world, and I hope, you also got the same"

Rev. X  : "How dare you are to say those word to me.  You speak like an old man to a young boy"
Yarman : "Indeed.  If we have a same perspective about "old" and "young" regarding the spiritual maturity and knowledge about the sound doctrine, then you're right."

Rev. X  : "You're not polite !"
Yarman : "Thank you ! If you really meant it, then I have no more kindly words you need to hear from me. Frankly, I "cannot" polite to those who have been playing the truth in their heretic mind."

Rev. X  : "Listen and meditate all thing I have told to you.  I..."
Yarman : "No, I don't need to listen and meditate the heretical suggestion from you. I urge you to repent, Sir!"

Rev. X : (dashed down the phone) ......

KEKRISTENAN DAN PLURALISME: ADAKAH KRISTUS YANG LAIN? Sebuah Refleksi Terhadap Finalitas Kristus

 oleh Rev. Yarman Halawa, D.Min


Latar Belakang
Pluralisme dalam masyarakat adalah fakta yang tidak dapat disangkali keberadaannya, khususnya di tengah negara seperti Indonesia. Meskipun demikian, perlu dibedakan antara pluralitas dengan pluralisme. Hal ini penting untuk menghindari kekacauan atau kerancuan dari topik yang dibahas disini.

Kata Pluralitas mengacu pada konteks yang didalamnya kita hidup–suatu kompleksitas fenomena masyarakat yang terdiri dari berbagai macam kebudayaan, agama dan ideologi–. Sedangkan Pluralisme adalah suatu paham, sikap yang menerima validitas atau keabsahan bahwa semua agama adalah sama. Perhatikan perkataan Paul F. Knitter dalam bukunya “No Other Name?” ini, “Deep down, all religious are the same–different paths leading to the same goal.” (1)

Bagi kaum pluralis, masalah agama adalah masalah pribadi; sehingga tidaklah relevan untuk membicarakan benar tidaknya masalah agama. Mereka menolak segala bentuk klaim agama yang bersifat absolut, unik, normatif, eksklusif atau final(itas). Dalam spektrum pluralisme, setiap agama yang mengklaim dirinya absolut maka agama tersebut relatif atau absolut relatif.

Pluralisme bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, melainkan lebih merupakan sebuah ‘doktrin’ teologis yang didasarkan kepada relativisme yang bersumber dari dunia barat yang ‘atomis’ dan pandangan Hindu ‘oseanis’ (2) sehingga, keunikan dan finalitas Kristus dianggap sebagai sebuah mitos yang perlu ditinggalkan.
Bagaimana seharusnya sikap gereja terhadap pluralisme adalah topik yang akan dibahas dalam bagian ini. Penulis mencoba untuk menyeleksi aspek-aspek yang dianggap krusial pada saat ini untuk dipaparkan secara singkat dan kemudian ditutup dengan kesimpulan sebagai jawaban terhadap topik ini.


A. SEJARAH IDENTIK DENGAN KESELAMATAN
Pada umumnya, kaum pluralis menolak adanya penyataan khusus (baca: keselamatan dalam Yesus Kristus). Mereka beranggapan bahwa tidak ada penyataan yang berpredikat khusus dalam sejarah, Seluruh sejarah adalah penyataan Allah.
Choan Seng Song, salah seorang teolog pluralisme melihat bahwa seluruh sejarah adalah sejarah Allah sekaligus sejarah keselamatan. Ia menekankan bahwa waktu adalah ciptaan Allah dan milik Allah sendiri. Oleh karena itu segala waktu yang berlalu dalam sejarah menjadi milik Allah tanpa ada perbedaan. Sejarah bangsa-bangsa baik China, Indonesia bahkan Israel pun berada di dalam sejarah tindakan Allah. Song berkata demikian,
“…sejarah adalah di dalam Allah. Ia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Allah tidak berdiri bertentangan dengan sejarah tetapi berada di dalam sejarah. Dan Allah itu bekerja di dalam sejarah melalui para nabi yang arif bijaksana, melalui para raja, petani; melalui kita semua…”(3)

Jadi, Song melihat (baik implisit maupun eksplisit); bahwa, sejarah bangsa-bangsa dalam sistem keagamaan maupun sosial, politik, kebudayaanya, adalah sejarah keselamatan yang identik dengan penyataan Allah. Tidak ada “sesuatu yang khusus” dari tindakan Allah bagi keselamatan manusia di muka bumi. Pandangan Song ini tidak berbeda dengan Paul F. Knitter yang menolak penyataan Allah dalam sejarah secara partikular dalam waktu, locus maupun persona tertentu seperti Israel dan sejarahnya, termasuk Yesus Kristus. Menurut Knitter, sejarah adalah “the march of God through the world.” (4) Dengan demikian masalah keselamatan tidak tergantung pada penyataan khusus (baca: Yesus Kristus), institusi agama, atau sistem kepercayaan tertentu karena Allah secara imanen telah, sedang, dan akan terus menyatakan diri-Nya kepada setiap manusia dalam konteks sejarahnya masing-masing.

Selanjutnya, kaum pluralis melihat bahwa Kristus adalah suatu manifestasi. Maksudnya: gelar Kristus adalah sesuatu yang kosmis–suatu gelar yang dapat dikenakan kepada setiap medium keselamatan, termasuk yang non religius– yang merupakan misteri ilahi yang imanen dalam sejarah dan budaya manusia pada tempatnya masing-masing. Raimundo Panikkar, teolog India mengungkapkan hal ini sebagai berikut:
“Realitas ilahi terdapat dalam setiap nama yang ada di dalam masing-masing agama. Dalam Hinduisme dikenal dalam Ishavara, dalam kekristenan dikenal dengan Yesus dari Nazareth. Namun Kristus itu lebih dari pada Yesus dan tidak hanya dikenal melalui Yesus. Kristus sebagai misteri ilahi bukanlah suatu realita yang mempunyai banyak nama; tetapi, dalam setiap nama yang berbeda-beda dalam berbagai agama, Kristus itu hadir dan menyelamatkan menurut pandangan masing-masing agama.” (5)

Dari beberapa pandangan kaum pluralis di atas, nampak jelas bahwa tidak ada pemisahan antara “yang menyatakan” dengan “yang dinyatakan,” “yang mencipta” dengan “yang diciptakan” karena keduanya identik. Memang harus diakui bahwa tidaklah mudah untuk memecahkan relasi antara penyataan dengan sejarah. Sejarah merupakan arena aktivitas Allah dan penyataan berada di dalam sejara; tetapi, tidak identik dengan sejarah secara keseluruhan, karena penyataan memiliki konotasi “aktivitas Allah yang khusus” (baca: aktivitas penyelamatan).  Pluralisme mengidentikan sejarah dengan sejarah keselamatan karena konsep yang humanistis-anthroposentris. Memang benar Allah masih mengontrol jalannya sejarah; tetapi, apabila mencampuradukkan sejarah dengan penyataan khusus secara mutlak tanpa melihat unsur-unsur demonik dan kebobrokan manusia, akibatnya adalah fatal. Karena bila hal ini terjadi maka peristiwa Ambon, Maluku, Aceh, Poso, Bom Bali, Bom JW Marriot, dan sebagainya, dapat di klaim sebagai “tindakan dalam ketaatan terhadap Allah”!

Kegagalan dalam melihat fakta dari karya penyelamatan Kristus di dalam sejarah boleh jadi karena ketidakmampuan untuk mengenali Dia. Yohanes benar ketika ia menulis dalam injil, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yohanes 1:10,11).  Dan tidak pernah ada di dalam sejarah sebuah pernyataan yang begitu dahsyat dan menggetarkan setiap hati kesaksian dari mereka yang sungguh-sungguh mengenal Dia, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seseorang, yang telah mendahului aku, sebab Ia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia…Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yohanes 1:29-31, 36).


B. SEMUA JALAN MENUJU KE ROMA
Pluralisme menolak keyakinan terhadap universalitas dan partikularitas Kristus. Yang dimaksudkan dengan ‘universalitas’ disini adalah bahwa Yesus dari Nazareth adalah satu-satunya mediator keselamatan bagi manusia. Sedangkan ‘partikularitas’ (baca: eksklusif) untuk menjelaskan universalitas Injil (yakni keselamatan di dalam Yesus Kristus) hanya efektif apabila di terima dengan iman. Keselamatan tidak berlaku secara otomatis sebagaimana halnya di anut oleh kelompok universalisme.

Memang beberapa teolog seperti Hans Kung, Karl Rahner, Raimundo Panikkar, Victor I. Tanja; mengakui bahwa, keselamatan hanya dapat diperoleh melalui Yesus Kristus tetapi dengan catatan bahwa Yesus Kristus itupun juga dapat hadir di luar tembok kekristenan. Sehingga sangatlah tidak bijak untuk membicarakan masalah hidup kekal dengan membedakan surga dan neraka. Alasan yang paling mendasar adalah karena Kristus itu kasih adanya sehingga tidaklah mungkin ada neraka atau tempat penghukuman yang kekal. J.A.T. Robinson dan N.S Fere berpendapat bahwa bila neraka ada maka surga hanya akan menjadi tempat dukacita abadi untuk meratapi mereka yang terhilang.(6)

Gustave H. Todrank melihat Kristus dari sisi yang lain. Baginya Kristus tidaklah sinonim dengan Yesus. Dalam bukunya “The Secular for a New Christ” ia melihat Kristus dalam konteks Alkitab yang berarti “yang diurapi Tuhan” sebagai suatu gelar yang lebih menunjuk kepada peranan dan fungsi dari pada nama pribadi. Lebih jauh ia menambahkan: karena di dalam Alkitab banyak orang yang diurapi Tuhan maka Kristus tidak boleh disinonimkan dengan Yesus. Baginya Yesus adalah “salah satu Kristus” atau “a Christ”, bukan “the Christ”. (7)  Bila pandangan ini menjadi patokan aplikatif maka dapatlah dianggap bahwa Gandhi, Mao Tse Tung, Martin Luther King, Calvin, Luther, dan lain-lain, dapat disebut sebagai “kristus-kristus” yang lain. Hal inipun sesuai dengan pemahaman kaum pluralis yang memandang sejarah identik dengan sejarah keselamatan yang dinyatakan dalam setiap budaya, bangsa, individu, dan agama!

Apapun bentuknya, kaum pluralis telah menolak keunikan dari pada Kristus berdasarkan pernyataan dari Kitab Suci: “diselamatkan oleh anugerah.” Jelas disini bahwa arti dan makna anugerah Allah disia-siakan sedemikian rupa, karena anugerah baru dipandang sebagai anugerah apabila tanpa persyaratan. Anugerah dengan persyaratan bukanlah anugerah. Bila Allah benar-benar menganugerahkan keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada semua orang maka IA tidak tergantung terhadap sikap pribadi seseorang. Apakah ini benar?
Akibat konsep yang humanistis-anthroposentris ini; maka, pluralisme telah mengakui dengan sesungguh-sungguhnya bahwa agama, kepercayaan, dan keyakinan apapun semuanya memiliki tujuan dan akibat yang sama. Buddha, Hindu, Islam, Kebatinan/Kejawen, Kong Hu Cu hanya berbeda “kulit dan bajunya” tetapi “isi”nya sama saja. Dengan demikian dapat juga dikatakan disini bahwa mereka mengabaikan istilah ataupun konsep berhala atau ilah zaman. Tidak ada yang menyembah patung, kayu, batu atau obyek-obyek tertentu yang dipakai sebagai “medium” untuk kontak dengan “realitas ilahi.” Kalau orang kristen mencap tradisi atau kepercayaan lain sebagai penyembah berhala maka kekeristenan adalah penyembah berhala karena memberhalakan Yesus!  Tom F. Driver salah seorang penulis artikel dalam buku “The Myth of Christ Uniqueness” mengistilahkan pemberhalaan kepada Kristus itu dengan istilah “Christolatry” (8) sebagai ungkapan pluralisme menolak klaim kekristenan yang meyakini kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan satu-satunya “Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yohanes 14:6).

Kaum Pluralis meyakini bahwa klaim ini hanya berlaku bagi kekristenan saja dan tidak berlaku bagi kalangan lain. Menurut mereka klaim ini baru berlaku jika dalam konteks dimana Kristus mencakup semua yang benar dalam agama lain. Karena seluruh kebenaran bersumber dari Allah maka kebenaran-kebenaran dan kebaikan yang ada dalam agama lain harus dihubungkan dengan Kristus. (9)

Akan tetapi, Alkitab menunjukkan bahwa kebenaran yang sesungguhnya hanya dapat di lihat, dirasakan dan dialami melalui nama-Nya, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12).


C. MISI IDENTIK KEPENTINGAN DUNIA DAN MANUSIA
Pluralisme melihat misi sebagai upaya memperluas kerajaan Allah di bumi. Harus di akui bahwa ada kebenaran yang terkandung dari cara pandang ini. Akan tetapi penekanan misi disini adalah bahwa kerajaan Allah itu tidak hanya meliputi gereja dan kekristenan tetapi mencakup segala sesuatu. Menurut mereka, salah satu faktor yang dominan mendatangkan konflik dan perpecahan diantara umat manusia adalah masalah agama. Masalah ini hanya dapat diatasi apabila semua agama membuang sikap yang berpusat pada diri sendiri seperti: doktrin atau kerygma. (10)) Barangkali lagu “Imagine” yang dinyanyikan oleh John Lenon dapat menjadi gambaran nyata dari pengharapan mereka ini.

Pemahaman misi yang rancu karena menganggap bahwa misi kristen haruslah misi kasih dan bukanlah terutama kebenaran karena kebenaran memilah, menghakimi dan mempolarisasikan menjadi permasalahan yang fatal untuk diterima oleh seorang yang menyebut diri kristen yang sejati. Perhatikan pernyataan yang tanpa salah dari Song yang mengatakan bahwa kebenaran tidak dapat menyatukan yang tidak dapat dipersatukan; hanya kasih yang mampu melakukannya.(11)

Latar belakang pemikiran bahwa misi tidaklah terutama untuk memberitakan kebenaran didasarkan pada konsep “misi adalah mengembangkan kerajaan Allah.”  Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan ini adalah apabila gereja dapat bekerjasama dengan dunia. Tekanan misi bukanlah masalah surga karena surga adalah “urusan Allah.” Tentang hal ini Song berkata, “Kita tidak boleh mencampurinya karena kita hanya akan dapat merusaknya”. (12) Tekanan misi harus dititik-beratkan pada kepentingan manusia dan dunia. Rene Padila dalam ceramahnya “Evangelization & The World” ketika mengatakan bahwa seluruh injil untuk seluruh manusia dan seluruh dunia, ia memaksudkannya sebagai pemulihan Allah yang tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial. Ia menegaskan bahwa injil harus menjadi hub ungan manusia dengan “dunia-dunia dimana Kristus mati”. (13)

Hal ini memunculkan strategi baru dalam metodologi misi yang kemudian sangat dikenal dengan istilah dialog antar agama. Victor I. Tanja mengatakan bahwa metodologi misi yang paling sesuai dan kontekstual dengan Indonesia pada saat ini adalah dialog dan bukan penginjilan. (14) Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dialog bersifat lebih rasional dan dapat diterima dalam setiap element yang berbeda karena mampu menciptkan sikap saling keterbukaan, belajar satu dengan yang lain, saling memberi, tumbuh bersama untuk mencapai tujuan. Tujuan tersebut adalah: terciptanya harmoni dan kesejahteraan umat manusia. Akibat pemahaman metodologi misi yang demikian maka segala resiko yang mungkin terjadi dalam setiap kesempatan harus dipandang sebagai jalan terbaik. Salah seorang teolog reformed yang terpengaruh dengan gerakan pluralisme ini adalah Prof. JG. Davis mengatakan bahwa, “…Kita harus rela menghadapi suatu resiko, apabila menemukan bahwa iman agama lain itu lebih baik/benar dari pada iman Kita sendiri…”. (15)
Pada kenyataanya metodologi misi ini yang lazim dikenal di Indonesia sebagai dialog antar umat beragama (inter-faith dialog) lebih banyak menghasilkan ‘pertobatan’ kristen terhadap iman agama lain. Di Inggris dan negara-negara lain di Eropa semakin marak dengan ucapan dan ungkapan pengakuan orang-orang berlabel kristen terhadap ‘iman yang benar’ dalam agama lain tersebut. Malcolm Archeson, Vicarius gereja Tisbury-England mengatakan bahwa Tuhan orang Islam dan Tuhan orang kristen adalah sama. (16) Sebuah pernyataan yang sangat sulit untuk diucapkan oleh non-kristen sendiri.

Sesungguhnya kita diingatkan kembali kepada misi Tuhan Yesus Kristus ketika IA masih berada di dalam dunia ini, dari awal kehidupan dan pelayanan-Nya hingga kenaikan-Nya ke sorga. Ia pernah berkata bahwa kedatangan-Nya adalah untuk mencari domba-domba yang tersesat (Matius 18:12-14). Bahkan Ia menyatakan bagaimana seharusnya umat-Nya mengaku iman percaya mereka kepada-Nya, “Setiap orang yang mengakui Aku dihadapan manusia, Aku juga mengakuinya didepan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-ku yang di sorga.” (Matius10:32,33).

Dalam terang kebenaran Alkitab misi dalam konsep pluralisme adalah suatu upaya untuk membangun dunia demi kesejahteraan dan kemaksmuran bersama tanpa memperhatikan hal-hal di luar batas kemampuan manusia untuk mengatasinya yaitu dosa dan segala akibatnya. Tentu saja hal ini akan sangat fatal akibatnya…dan mungkin hanya merupakan pengulangan sejarah dari Menara Babel di dalam kitab Kejadian 11:1-10!!


Kesimpulan
Pluralisme menolak finalitas Kristus yang merupakan dasar dari iman kristen. Juga pluralisme merupakan suatu ajaran “anti Kristus” yang menyamakan bahkan menggantikan Kristus dari Nazareth dengan “kristus-kristus palsu” atau “kristus yang kosmis panteistis.” Satu hal penting yang tidak dapat disangkali bahwa pemahaman ini justeru muncul dari dalam kekristenan sendiri melalui oknum-oknum tertentu yang pengaruhnya tidak hanya di dalam tembok kekritenan lokal saja melainkan telah mendunia. Pada masa sekarang keberadaan ajaran inipun terus mendapat kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya seiring dengan semangat humanisme global modern.

Gereja harus menolak pluralisme karena bersifat sinkretis; mencampuradukkan segala macam ajaran agama yang diyakini memiliki kebenaran-kebenaran tertentu yang saling melengkapi. Gereja harus sadar akan bahaya dan fenomena dari ajaran ini yang dalam konteks kultural cukup mendapat angin untuk berkembang dengan subur dan kemudian merongrong wibawa kekristenan. Pluralisme perlu diwaspadai khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan potensial menjadi lahan yang subur untuk berkembang dan menghambat serta mengancam kelangsungan eksistensi dan misi kristen yang tergantung pada fondasi keunikan dan finalitas Tuhan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Mediator Keselamatan. Umat Tuhan yang sejati perlu dengan bijaksana dan berhikmat mengingat akan kata-kata dari sang Juru Selamat sendiri: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6).”


Catatan:
(1) Paul F. Knitter, No Other Name? (New York: Orbis Books, 1982). P. 37.
(2) David Ndoen, Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah, 1995). P. 1. Bersifat “atomis” menunjukkan kepada suatu pemahaman bahwa segala sesuatu yang berkembang berasal dari satu ledakan inti. Hal ini untuk menggambarkan bahwa keberagaman agama dan kepercayaan sebenarnya berakar dari satu inti yang sama. Sedangkan bersifat “oseanis” untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu itu mengalir ke satu tujuan yang sama dimana manusia tidak berkuasa untuk memilah-milah mana yang benar dan yang salah karena pada dasarnya segala sesuatunya itu sudah ada filternya tersendiri.
(3)  Choan Seng Song, Allah Yang Turut Menderita (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). P. 81
(4) Paul F. Knitter, No Other Name? halaman. 25.
(5) Victor I. Tanja, Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994). Halaman 123-124.
(6) R.B. Kuyper, For Whom Did Christ Die? (Grand Rapids: Baker Book House, 1959). Pp.13-14.
(7) Yarman Halawa, Karya Keselamatan Yang Efektif Bagi Umat Pilihan Allah Dan Relevansinya Dalam Misi: Sorotan Terhadap Gerakan Misi Arminianisme dan Universalisme. (Pacet: Skripsi S1, 1999). Halaman 84.
(8) John Hick & Paul F. Knitter, The Myth Of Christian Uniqueness. (London: SCM, 1987). Pp. 214-215.
(9)  Untuk lebih jelas lihat Lilian Tedjasudhana. Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan Keselamatan Satu-Satunya, (Jakarta: Yayasa Bina Kasih/OMF, 1996). Judul asli: What’s So Unique About Jesus?
(10) Knitter, p. 41.
(11)  Song, halaman 90.
(12)  Ibid., halaman 89-91.
(13)  Gerald H. Anderson & Thomas F. Stransky., Missions Trends No. 2: Evangelization. (Grand Rapids: Paulist Press, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1978). Pp. 46, 52-55).
(14) Lihat Tanja, halaman 4-6.
(15)  J.D. Douglas, ed. Let The Eartyh Hear His Voice. (Minneapolis: Worldwide Publishers, 1975). P. 72.
(16) Herlianto, Gereja Modern Mau Kemana? (Bandung: Yabina, 1995). Halaman 78.

KEPUSTAKAAN
Alkitab
Anderson, Gerald H. & Stransky, Thomas F., Missions Trends No. 2: Evangelization.
Grand Rapids: Paulist Press, 1978.
Douglas, JD., Let The Earth Hear His Voice. Minneapolis: Worldwide Pub. 1975.
Hick, John & Knitter, Paul F., The Myth of Christian Uniqueness. London: SCM, 1987.
Herlianto., Gereja Modern Mau Kemana?. Bandung: Yabina, 1995.
Halawa, Yarman., Karya keselamatan yang Efektif bagi Umat Pilihan Allah Dan
Relevansinya Dalam Misi: Sorotan terhadap Gerakan Misi Arminianisme Dan Universalisme
(skripsi S1).                        Pacet:  STTIAA, 1999.
Kuyper, RB., For Whom Did Christ Die? Grand Rapids: Baker Book House, 1959.
Knitter, Paul F., No Other Name? New York: Orbis Books, 1985.
Ndoen, David., Mengenal Selintas Soteriologi Pluralisme (makalah). Sihanjung, 1995.
Song, Choan Seng., Allah Yang Turut Menderita. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Tanja, Victor I., Spiritualitas, Pluralitas Dan Pembangunan Di Indonesia. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1994.
Tedjasudhana, Lilian., Tuhan Yesus Memang Khas Unik: Jalan keselamatan Yang
Satu-Satunya.
Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1996. Judul asli: What So Unique About Jesus?


Catatan:
Setiap tindakan meng-copy makalah ini diharapkan kejujurannya untuk mencantumkan sumber asli/nama penulis. 

ANTARA MUJIZAT DAN SIHIR

 oleh Rev. Yarman Halawa, D.Min


Fakta Historis-Teologis
Alkitab menegaskan bahwa penyebab dari seluruh penyesatan adalah Iblis. Ia membutakan mata jasmani dan rohani manusia yang lemah sehingga mempercayai kuasa2 ajaib yang dilakukannya melalui para kaki tangannya seolah-olah semua itu berasal dari Allah. Ia adalah Peniru Ulung segala sesuatu (2 Korintus 11:14) yang memanipulasi iman kristen melalui penyesatan lewat pengajaran Alkitab, manifestasi kuasa Allah, mujizat dan tanda-tanda supranatural yang ajaib dan dahsyat dengan tujuan menyesatkan manusia khususnya orang2 percaya. Sejarah telah memberi banyak pelajaran penting bahwa gereja dan orang-orang percaya yang tidak memahami pengajaran yang benar dan tepat mengenai hal2 mujizat dan tanda ajaib, akan lebih mudah dipedayakan dan ditarik secara pemuasan logika dan panca indera terhadap hal2 yang bersifat supranatural, melalui demonstrasi2 yang ‘terbungkus’ oleh charisma rohani, kefasihan lidah, dan mujarabnya pelayanan2 rohani. Tepatlah ucapan Merril C. Tenney, seorang hamba Tuhan yang mengatakan demikian,
“Kekacauan antara iman dan takhayul tidak jarang terjadi diantara orang2 yang pada dasarnya saleh, namun tidak berkesempatan belajar atau membaca Kitab Suci.” (1)

Adalah benar bila dalam 2 Petrus 1:3-12 rasul Petrus mendorong umat Tuhan supaya tidak hanya berhenti pada langkah iman saja, melainkan juga berusaha dengan sungguh2 “menambahkan kepada iman kebajikan,kepada kebajikan pengetahuan, kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, kepada ketekunan kesalehan…..” (ayat 5-6). Tujuannya adalah supaya menjadi “giat dan berhasil dalam pengealanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita” (ayat 8). Ketidakmampuan melakukan hal2 ini akan menyebabkan “buta dan picik” (ayat 9) yang akan mengakibatan tidak akan bisa bertahan terhadap berbagai rupa2 pengajaran, manifestasi kuasa2 supranatural yang menggunakan nama kekristenan (baca seluruh 2 Petrus 1-3).

Sejarah telah membuktikan bahwa Mujizat Palsu (Sihir) Berusaha Mempedayakan Gereja/Orang Percaya:

(1) Praktek sihir di Samaria
Dalam Kisah Para Rasul 8:9-24 dicatat mengenai Simon (dalam tulisan2 post-apostolik disebut Simon Magus), ahli sihir dari Samaria (2) yang kemudian bertobat melalui pelayanan Rasul Filipus. Ia begitu takjub dengan tanda2 dan mujizat2 yang menyertai pelayanan rasul Filipus. Ketika rasul Petrus dan rasul Yohanes mengunjungi kota itu, ia kembali dibuat takjub dengan kuasa2 ajaib yang terjadi melalui penumpangan tangan mereka. Dan dia sangat ingin memiliki kuasa itu dan berusaha membelinya dari mereka. Niat hatinya yang jahat ini (yang semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri) diketahui oleh rasul Petrus yang kemudian menegur dia dengan amat keras. Atas hal itu, ia memohon kepada mereka supaya ia didoakan agar hukuman Tuhan tidak terjadi atas dirinya. Kisah ini berhenti sampai disini. Tetapi sejarah gereja telah mencatat bahwa Simon Magus ini kemudian menjadi seorang guru penting aliran “gnosis” (), suatu aliran sesat dalam kekristenan yang mengajarkan bahwa keselamatan juga dapat diperoleh melalui “pengetahuan khusus” dan bahkan bisa menjadi penyelamat bagi yang lain asalkan tahu bagaimana caranya (cara yang umum adalah askese).(3)  Melalui dia paham gnostik menyebar dari Samaria hingga ke berbagai belahan wilayah lainnya. Jadi pertobatannya tidak membawanya menjadi saksi Injil yang benar seperti yang dilakukan oleh para rasul sesuai perintah Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:8!!

Perlu diperhatikan: Orang2 Samaria sebelumnya telah mendengar dan percaya Injil melalui Kristus sendiri ketika Ia dan para rasul mengunjungi kota itu (Yohanes 4:39-42). Tetapi catatan dalam Kisah Para Rasul 8:9-11 menunjukkan betapa mereka mudah berbalik karena fenomena mujizat dan tanda2 ajaib dari Simon! Bukankah ini fenomena yang juga sedang melanda kehidupan sebagian besar umat Tuhan pada zaman ini?

(2) Praktek sihir di Siprus
Dalam Kisah Para Rasul 13:6-11 dicatat mengenai Bar-Yesus (Ibrani: Bar-Jehoshua atau Anak Yesus; Yunani: Elimas), seorang Yahudi di daerah Pafos di pulau Siprus yang adalah seorang ahli sihir dan nabi palsu. Ia adalah contoh dari salah seorang pemuka agama Yahudi yang menggunakan kedok agama, Taurat dan nubuatan para nabi dalam PL dibalik praktek2 sihir yang ia lakukan. Ia berusaha menghalangi Gubernur Siprus yang bernama Sergius Paulus yang ingin mendengar Injil dari Barnabas dan Saulus. Dikatakan bahwa ia “berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya” (ayat 8b). Matthew Henry memberikan data yang cukup baik mengenai orang ini,

“This Elymas was a pretender to the gift of the prophecy, a sorcerer, a false prophet—one that would be taken for a divine, because he was skilled in the arts of divination; he was a conjurer, and took on him to tell people their fortune, and to discover things lost, and probably was in league with the devil for this purpose; his name was Bar Jesus—the Son of Joshua which signify the Son of Salvation; but Syriac calls him, Bar-Shoma—the Son of Pride; filius inflationis—the Son of Inflation.” (4)

(3) Praktek sihir abad 3 M
Sejak awal kekristenan, mantra2 sihir telah dipergunakan dalam praktek2 pengusiran setan, penglihatan2, nubuatan. Penemuan kutipan mantra dari papyrus sihir Paris yang sangat terkenal pada abad 3 Masehi membuktikan bahwa praktek2 pengusiran setan, nubuat2, penglihatan2 dan penguatan2 keyakinan merupakan gabungan yang unik dari istilah2 dalam agama2 kafir, Yahudi dan Kristen. Berikut adalah salah satu contoh mantra sihir untuk melakukan mujizat pengusiran setan pada abad 3,

“Doa ini harus dibacakan di atas kepala (orang yang kerasukan). Letakkan ranting zaitun dihadapannya dan berdirilah dibelakangnya sambil berkata, ‘Hiduplah roh Abraham; hiduplah roh Ishak; hiduplah roh Yakub. Yesus Kristus yang kudus, Roh Kudus… (dan seterusnya yang merupakan rentetan kata2 yag tidak ada artinya)…usirlah Iblis dari orang ini, hingga roh Iblis yang jahat menyingkir dari hadapanmu. Kumohon kepadamu, O Iblis, siapapun engkau adanya, demi Allah Sabarbarbatioth Sabarbarbatiuth Sabarbarbatoneth Sabarbarbaphai. Keluarlah, O Iblis, siapapun engkau adanya dan lepaskanlah dirimu dari si…(sebutkan nama orang yang hendak disembuhkan) segera, segera, sekarang juga! Keluarlah, O, Iblis, karena aku akan merantaimu dengan rantai yang kukuh yang tak terpatahkan, dan akan kuserahkan kau kedalam kesesakan yang kelam dalam kebinasaan abadi.” (5)

Praktek di atas menunjukkan adanya pengaruh yang kuat dari agama Kristen yang disalahtafsirkan dan juga disalahgunakan untuk kepentingan praktek2 ilmu hitam maupun ilmu putih (6) yang dapat mengakibatkan kejadian2 dahsyat yang orang sangka itu mujizat. Tidak dapat dipungkiri bahwa praktek seacam ini masih dapat ditemui dalam pelayanan2 mujizat kesembuhan ilahi!

(4) Praktek ‘mantra sihir’ dalam Word Faith
Word Faith adalah ajaran yang menjadikan kata2 firman Tuhan sebagai rapalan atau mantra. Praktek ini secara terselubung membawa manusia untuk meyakini bahwa keselamatannya bergantung kepada kata2nya dan menyangkali bahwa keselamatan hidupnya bergantung sepenuhnya kepada anugerah Tuhan. Ini adalah sebutan lain dari apa yang disebut “Positive Confession” yang dipopulerkan mula2 oleh Kenneth Hagin. Hagin berkata,
“Kamu akan memperoleh apa yang kamu ucapkan. Kamu dapat menulis tiketmu sendiri dengan Tuhan.
Langkah pertama adalah “Katakan”.(7)

Lebih lanjut ia mengatakan,
“Bila kamu berkata mengenai pencobaan, kesulitan2, kurangnya iman dan kekurangan uang – imanmu akan berantakan dan kering. Tetapi berkat Tuhan apabila kamu berkata tentang firman Tuhan…imanmu akan tumbuh berkelimpahan.” (8)

Ia menegaskan bahwa untuk sembuh, sehat, sukses, harus membuang kata-kata atau pikiran2 yang negative,
“Saya tidak pernah mengatakan mengenai kesakitan, saya berkata tentang kesehatan…Saya berkata mengenai kesembuhan. Saya tidak pernah berkata mengenai kegagalan. Saya percaya akan keberhasilan. Saya tidak percaya akan kekalahan. Saya percaya akan kemenangan, haleluya untuk Yesus.” (9)
Fakta berbicara bahwa banyak Pendeta/Penginjil atau orang2 awam yang mengklaim diri (diklaim oleh orang lain/pengikutnya) memiliki kemampuan supranatural – terang-terangan atau tidak – menjadikan diri mereka pahlawan penyembuh apabila terjadi kesembuhan, tetapi menyalahkan si penderita bila tidak terjadi kesembuhan dengan mengatakan bahwa si penderita kurang iman!

(5) Praktek Sihir dalam KKR Pemulihan Ilahi
Tidak dapat dipungkiri bahwa pelayanan2 kesembuhan ilahi dicampuradukkan dengan pemahaman atau keyakinan kafir. Ada hamba Tuhan yang dengan terang2an membelokkan makna Perjamuan Kudus sebagai sarana terjadinya berbagai mujizat atau menjadikan praktek pengurapan dengan minyak dan penumpangan tangan sebagai daya tarik. Tidak hanya itu, pengagungan terhadap karunia penyembuhan yang dimiliki oleh seorang hamba Tuhan (entah itu benar2 karunia atau tidak) menjadi alasan utama orang berduyun-duyun datang. Patut diperhatikan bahwa sebenarnya praktek2 seperti ini sejajar dengan praktek2 yang dilakukan oleh para yogi yang menguasai apa yang disebut dengan energi Prana yaitu energi universal yang menghasilkan semua bentuk energi lain (listrik, panas, nuklir) (10)  yang dimanfaatkan bagi penyembuhan berbagai penyakit oleh ahli2 terapi metafisika (paranormal),

“Bila dikendalikan oleh seorang yogi yang terlatih, prana dapat diarahkan keseluruh tubuh manusia. Para yogi juga mempunyai teknik untuk menyimpan prana dalam tubuh mereka seperti menyimpan listrik dalam baterai. Dengan memanfaatkan energi ini, para yogi seakan-akan dapat melakukan mujizat. Pemanfaatan energi ini memungkinkan para yogi menyembuhkan diri mereka atau orang lain. Karena sifatnya universal, prana dapat diperoleh dengan berbagai cara seperti dari makanan, air, meditasi dan lain-lain.” (11)


Alkitab (12) selalu berbicara agar umat Tuhan waspada (13) terhadap berbagai fenomena mujizat, nubuat, penglihatan, tanda2 ajaib dan daya tarik pengajaran2 yang menyesatkan:

Yeremia 14:14,
Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.

Yeremia 23:25,
Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan: Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi!

Yeremia 23:26,
Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri,

Yeremia 27:14, 15,
Janganlah dengarkan perkataan nabi-nabi yang berkata kepadamu: Janganlah kamu mau takluk kepada raja Babel! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu. Sebab Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN, tetapi mereka bernubuat palsu demi nama-Ku, sehingga kamu Kuceraiberaikan dan menjadi binasa bersama-sama dengan nabi-nabi yang bernubuat kepadamu itu.”

Matius 7:15,
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Matius 7:21-23,
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Matius 24:11, 24,
Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.

Markus 13:22,
Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.

2 Petrus 2:1,
Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.

2 Korintus 11:12-15,
Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan. Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.

2 Tesalonika 2:2-15 (munculnya para tokoh/pemimpin sesat di dalam gereja),
• yang menyesatkan melalui nubuatan2, penglihatan, mimpi (ayat 2, “supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba”).
• yang melakukan tanda2 dahsyat (ayat 9, “Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa2 perbuatan ajaib, tanda2 dan mujizat2 palsu, dengan rupa2 tipu daya jahat…).

Wahyu 13 (daya tarik Iblis untuk menyesatkan manusia),
• Mujizat kesembuhan (ayat 13)
• Kemampuan berbicara (ayat 11-12)
• Tanda2 ajaib (ayat 13-14a)
• Fanatisme kepada pemimpin rohani (ayat 14b-15).
• Kebanggaan dan arogansi komunitas (ayat 16-17)
Wahyu 20:10 (hukuman yang mengerikan bagi para nabi palsu dan yang mengikuti mereka),
“dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”

Kesimpulan
Manusia akan selalu berusaha memenuhi kepuasan logika dan panca indera terhadap hal2 yang sifatnya supranatural. Semakin hebatnya tantangan hidup dan masalah2 kehidupan, akan membuat manusia berusaha untuk mendapatkan solusi dari kekuatan2 yang berasal dari luar dirinya yang bersifat supranatural. Hendaknya setiap kita orang percaya waspada terhadap godaan ini, karena hal2 ini dapat menjadi pintu masuk bagi si jahat untuk menipu logika dan panca indera kita yang bukan saja tidak pernah puas tetapi juga lemah dalam memilah-milah kepalsuan ! Hendaklah setiap kita tetap peka terhadap gema peringatan dari firman Tuhan,
“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka
berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Kamu berasal dari
Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih
besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yohanes 4:1, 4). Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah
pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun
secara tertulis (2 Tesalonika 2:15).”


Catatan:
(1) Merryl C. Tenney, Survey Perjanjian Baru (judul asli: New Testament Survey). Malang: Gandum Mas, 1985, halaman 88.
(2) Bapa gereja, Justinus Martyr (meninggal tahun 165) yang juga berasal dari Samaria menulis bahwa Simon Magus pada zamannya dianggap oleh dewa tertinggi oleh orang2 Samaria yang disebut sebagai ‘kuasa Allah, Kuasa Besar’ (KPR 8:10). Lihat, Kenneth L. Barker & John Kohlenberger III, cons. Ed., NIV Bible Commentray: volume 2 New Testament. Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1994, p. 427.
(3) Untuk informasi yang lengkap, lihat Everett Ferguson, Backgrounds of the Early Christianity. 2nd Edition. Grand Rapids: Eerdmans & Co., 1993, pp. 284-285.
(4)  Matthew Henry, Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible: vol. VI—Acts to Revelation. Virginia: Macdonald Publishing Company, ny., p. 160.
(5)  George Milligan, Sellection From the Greek Papyri. Cambridge: The University Press, 1910, pp. 112-114.
(6)  “Ilmu Hitam” merupakan istilah untuk menyebutkan kuasa2 ajaib yang merusak, membahayakan, mengancam atau mencelakakan manusia. Sedangkan “Ilmu Putih” merupakan istilah untuk menyebutkan kuasa2 ajaib yang menahan, menangkis, mengalahkan atau menyembuhkan hal2 yang diakibatkan oleh Ilmu Hitam. Kedua istilah ini sebenarnya sama saja menunjukkan keyakinan palsu manusia terhadap kuasa2 kegelapan.
(7)  Kenneth Hagin, How To Write Your Own Ticket With God. Tulsa: Faith Library, 1979, p. 8.
(8)  Ibid., p. 10.
(9) Ibid, pp. 20-21
(10)  Ludzia, Tenaga Hidup. Halaman 37.
(11) Ludzia, h. 37-38.
(12)  Ayat-ayat Alkitab dalam materi ini merupakan kutipan dari software terjemahan2 Alkitab versi 3.0 dari “SABDA: Online Bible Versi Indonesia” (Surakarta: Yayasan lembaga SABDA –YLSA, 2005). Dipergunakan dengan izin penuh dari YLSA.
(13) Waspada disini berarti ‘menilai dengan bijaksana, mempergunakan hikmat ilahi dibawah penerangan Roh Kudus melalui kebenaran firman, dan tidak mudah condong untuk menerima begitu saja fenomena2 rohani yang ada melainkan menguji dengan kebenaran firman Tuhan.’


Catatan:
Setiap tindakan meng-copy makalah ini diharapkan kejujurannya untuk mencantumkan sumber asli/nama penulis.

THE JEHOVAH’S WITNESSES (Saksi-Saksi Yehuwa)

 oleh Rev. Yarman Halawa, D.Min

Sejarah Singkat Munculnya Bidat Ini
Sejarah Saksi Yehovah diawali oleh seorang bernama Charles Taze Russell, yang dilahirkan di sebuah kota dekat Pittsburgh, Penssylvania-USA pada 16 Pebruari 1852. Dalam usia 25 tahun ia menjadi pedagang kain yang sukses. Ia menjadi anggota gereja Congregational, dan sangat bersemangat dalam kelompok PA namun sangat kurang dalam pengeahuan tentang Alkitab. Pada tahun 1870 ia membentuk kelompok PA dengan anggota 30 orang dan pada 1876 ia diangkat menjadi “pastor” (pendeta) dalam kelompok tersebut tanpa pernah mengenyam pendidikan seminari atau sekolah teologia sedikitpun. Pada dasarnya hasil-hasil PA kelompok ini menyangkali beberapa doktrin ortodoks seperti: Tritunggal, keilahian Kristus, kebangkitan tubuh Kristus, parousia dan penghakiman terakhir.


Pada 1879 ia menginvestasikan kekayaannya dalam penerbitan majalah The Herald of The Morning yang kemudian menjadi The Watchtower Announcing Jehovah’s Kingdom. Kemudian pada 1884 ia membentuk kelompok Zion’s Watch and Tract Society yang sangat militant. Ia kemudian memindahkan markasnya ke Brooklyn, NY pada 1908 dan menerbitkan secara massal majalahnya hingga kematiannya pada 1916. Hingga periode 1980an The Watchtower Bible and Tract Society menguasai daerah mahal di pusat kota Brooklyn, percetakan besar “Kingdom Farm” dan sekolah missionary “Gilead” di South Lansing, NY.

Penggantinya Joseph F. Rutherford membuat nama Jehovah Witnesses berkibar pesat dengan 105.000 anggota., yang kemudian “meledak” menjadi 2,2 juta orang pada masa kepemimpinan Nathan H. Knorr yang menerbitkan terjemahan bahasa Inggris Alkitab versi mereka dengan judul The New World Translation of Holy Scriptures. Pada tahun 1981 anggotanya mencapai 4 juta orang dan pada tahun 2001 menjadi 6.117.66 orang. Di Amerika jumlah keanggotaannya hanya 979.637. Ini berarti perkembangan yang paling pesat justru terjadi diseluruh dunia termasuk Indonesia. Laporan tahunan pada 2001 lalu bahkan memberikan data yang mengejutkan bahwa lebih dari 15 juta orang mengunjungi tempat2 pertemuan mereka yang disebut “Kingdom Hall” atau “Aula Kerajaan” yang merupakan tempat-tempat ibadah orang Saksi Yehuwa.

Disamping itu, kemampuan publikasi mereka sungguh mengagumkan (contoh: edisi pertama “Zion’s Watch Tower” adalah 24.147.000 eksemplar/bulan dalam 78 bahasa pada tahun 2004. Majalah “Awake” pada saat ini bersirkulasi >18 juta eksemplar/bulan dalam 67 bahasa). Pada saat ini, kantor-kantor cabang “the Watchtower” beroperasi di lebih dari 225 negara termasuk Indonesia!

Pokok-Pokok Penting Ajaran Saksi Yehuwa
Ada sedikitnya 6 buku yang merupakan referensi utama pengajaran Saksi Yehuwa yang di ‘klaim’ sebagai penjabaran kebenaran Alkitab yang paling benar: (1) Let God be True, (2) Make Sure of All Things, (3) The Truth Shall Make You Free, (4) The Kingdom is at Hand, (5) The Truth That Leads To Eternal Life, (6) Aid To Bible Understanding.

Ajaran tentang Allah Tritunggal
(1) Let God Be True, edisi 1952, hal. 100: “Ada 3 allah-allah (gods) dalam satu yakni ‘Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus’ dan ketiganya memiliki kuasa, substansi dan kekekalan setara”.
(2) Let God Be True, hal. 101: “Setan adalah pengasal mula/pengarang doktrin Trinitas.”
(3) Let God Be True hal. 111): “Doktrin Trinitas tidak di anut oleh Yesus maupun orang Kristen mula-mula.”

Ajaran tentang Pribadi Yesus Kristus
(1) Make Sure of All Things, hal. 207: “Yesus, sang Kristus, suatu individu ciptaan, adalah pribadi (personage) tertinggi kedua dari Alam Semesta. Allah Yehowa dan Yesus bersama-sama membentuk kekuasaan-kekuasaan yang superior”.
(2) Let God Be True, hal. 91: “…Ia sebelumnya (was) adalah Allah, tapi bukan Allah yang perkasa, yakni Yehuwa.”
(3) Let God Be True hal. 88): “Kebenaran atas permasalahan ini adalah bahwa firman adalah Kristus Yesus, yang memiliki permulaan.”
(4) The Truth Shall Make You Free, hal. 47: “…Kitab Suci yang benar berkata tentang Anak Allah, Firman, sebagai ‘allah’ (a god). Ia adalah ‘allah yang perkasa’, tapi bukan Allah Perkasa, yakni Yehowa”.
(5) The Kingdom is at Hand, hal. 46-47, 49: “Dengan kata lain, ia adalah yang pertama dan ciptaan langsung dari Allah Yehowa”.

Ayat-Ayat ‘Sakti’ Saksi Yehuwa
Beberapa ayat “sakti” mereka untuk membuktikan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama Allah Yehuwa versi alkitab mereka (The New World Translation of the Holy Scriptures) adalah sebagai berikut:
(1) Yohanes 1:1: “In (the) beginning the Word was, and the Word was with God, and the Word was a god” (Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama dengan Allah, dan Firman itu adalah seorang Allah)
Penjelasan:
Terjemahan yang benar seharusnya: “Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Mereka salah menerjemahkan bahasa asli Yunani (Gerika) (yang terjemahan sebenarnya adalah “dan Allah adalah Firman” atau “dan Firman itu adalah Allah”) dimana kata Firman) menurut mereka adalah menunjuk ke Yesus sebagai “allah kedua” sedangkan kata theos) menunjuk kepada Yehuwa. Menurut mereka tidak adanya artikel o (ho) pada kata menyebabkan kata yang memiliki artikel o (ho) harus diterjemahkan “a god” (seorang allah). Ini menunjukkan kelemahan mereka karena didalam tata bahasa Gerika apabila subyek telah memiliki artikel maka predikatnya tidak perlu memilikinya.
(2) Yohanes 14:28: Yesus berkata, “…sebab Bapa lebih besar dari pada Aku”
Penjelasan: ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Yesus lebih rendah dari Allah (Yehuwa) tetapi Yesus berbicara mengenai kemanusiaan-Nya dalam konteks manusia tidak dapat mengetahui apa yang Allah ketahui.
(3) Wahyu 3:14: “Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah”
Penjelasan: mereka salah menerjemahkan kata yang dapat diterjemahkan sebagai “the beginning (permulaan)”, “the chief (pemimpin)” atau “the ruler (penguasa)”. Terjemahan yang tepat seharusnya menggunakan kata “the ruler” (Sang penguasa) atau “the chief “ (Sang Pemimpin atau Pemilik). Ayat ini menunjukkan bahwa Yesuslah Penguasa atau Pemilik segenap ciptaan yang berarti Yesus adalah Allah bukan seorang allah yang lebih rendah dari Allah.
(4) Amsal 8:22: “Tuhan telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya…”
Penjelasan: dalam konteks pasal 8 (dan seluruh kitab Amsal) jelas terlihat bahwa hikmat adalah bukan “ciptaan” namun ia telah ada/exist bersama Tuhan, karena Allah adalah Hikmat itu sendiri (Amsal 3:19-20).
(5) Kolose 1:15: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan”
Penjelasan: sebutan “yang sulung (Yunani ‘prototokos’ atau ‘firstborn’)” kepada diri Yesus menunjuk kepada otoritasnya atas segala ciptaan ( contoh: anak sulung adalah anak yang berotoritas penuh atas milik keluarga/bapanya).

Ajaran tentang Kebangkitan Kristus
(1) Let God Be True, hal. 276: “Anak sulung dari orang mati (Kristus) dibangkitkan dari kubur, bukan sebagai makhluk ciptaan, tapi suatu roh”.
(2) Let God be True hal. 138): “Maka Raja Kristus Yesus dihukum mati dalam daging dan dibangkitkan dalam suatu roh ciptaan yang tak terlihat”.
Ajaran tentang Kedatangan Kristus Kembali (parousia)
(1) Let God be True , hal. 196: “Yesus Kristus kembali datang, bukan lagi sebagai seorang manusia, tapi
sebagai suatu pribadi roh yang mulia” (mereka menyatakan bahwa Kristus telah datang sekitar 1914-
1918).

Ajaran tentang Roh Kudus
(1) The Truth that Leads to Eternal Life, 1968, hal. 24: “Mengenai ‘Roh Kudus’, yang dianggap ‘pribadi ketiga dari Trinitas’, kami telah membuktikan bahwa ia (it) bukanlah suatu pribadi tetapi kekuatan Allah yang aktif (God’s active force)”.
(2) Aid to Bible Understanding, 1971, hal. 1543: “Kitab Suci sendiri dalam kesatuannya menyatakan bahwa roh kudus dari Allah bukanlah suatu pribadi tapi adalah kuasa Allah yang aktif yang olehnya ia menggenapkan maksudnya dan melaksanakan kehendaknya.”
Ajaran tentang Jiwa Manusia
Saksi Yehuwa membedakan istilah Alkitab mengenai ‘jiwa’ dan ‘roh.’ Menurut mereka ‘jiwa’ (Yunani “psuche”) adalah “sebuah kehidupan, nafas, makhluk yang tampak, termasuk manusia dan binatang.” Sedangkan ‘roh’ (Yunani, “pneuma”) adalah “sebuah kuasa kehidupan, atau sesuatu yang menyerupai angin.” Pemahaman ini jelas menunjukkan kelemahan mereka dalam exegese sistematik baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dan tidak kompeten dalam tata bahasa asli Alkitab baik Ibrani maupun Yunani karena kata ‘jiwa’ dan ‘roh’ merupakan 2 kata yang memiliki arti yang sama (interchangeable).

Ajaran tentang Pemerintahan Manusia
Let God Be True, hal. 243: “…maka tidak ada (anggota) saksi Yehowa, yang percaya bahwa keselamatan hanya oleh-Nya, boleh bersalut kepada emblem kebangsaan apapun tanpa menyalahi perintah Yehuwa sebagai penyembahan berhala sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya.”

Ajaran tentang Keselamatan
Saksi Yehuwa percaya bahwa ada 3 kelas manusia yang akan diselamatkan oleh perbuatan baik. Namun keselamatan dari tiap kelas berbeda satu dengan lainnya.
(1) Kelas Pertama: kaum 144.000 yang menikmati berkat-berkat istimewa pembenaran oleh iman. Konsep pembenaran oleh iman kaum Saksi Yehowa berbeda dengan pembenaran oleh iman menurut Alkitab yang sekali untuk selamanya (Roma 3:28; Fil. 3:9). Bagi mereka pembenaran berlaku hanya jika taat. Jika tidak taat maka hak itu akan dicabut. Mereka ini telah mengalami kelahiran baru yaitu dibaptis dengan air dan diurapi oleh Allah sehingga dapat diciptakan ulang menjadi roh yang baru setelah kematian. 144.000 orang itu berhak untuk dilahirbarukan yakni diciptakan ulang sebagaimana Yesus diciptakan ulang oleh Allah setelah kematian-Nya menjadi malaikat Mikhael dan berhak memerintah sejajar dengan Yesus di surga.
(2) Kelas Kedua: kaum Saksi Yehuwa yang lain (yang disebut sebagai “ the other sheep”). Mereka ini adalah orang saksi Yehowa yang hidup tidak benar. Pada saat kematian, Allah akan menciptakan ulang mereka menjadi tubuh jasmani baru untuk hidup di dunia ini. Mereka ini akan diperintah oleh Yesus (Mikhael) dan kaum 144.000.
(3) Kelas Ketiga: kaum yang bukan Saksi Yehuwa yang hidupnya cukup baik sehingga diberi kesempatan setelah kematian. Mereka ini akan diciptakan ulang oleh Yehuwa untuk hidup dalam jaman millennium baru. Mereka akan terus hidup jika mereka dapat memelihara kehidupan mereka selama jaman millennium itu.
Penjelasan: Pemahaman ini menunjukkan kelemahan mereka dalam memahami bahasa simbolis kitab Wahyu mengenai angka 144.000 orang yang didapat dari 12.000 orang x 12 suku Israel (Wahyu 7). Penjelasan mengenai angka ini harus dilihat berdasarkan konteks megenai jumlah orang yang diselamatkan. Dalam konteks Yahudi angka 12 menunjuk kepada kegenapan. Maka pengertian yang tepat berdasarkan Wahyu 7 adalah bahwa jumlah orang yang diselamatkan (pilihan Allah) itu merupakan suatu jumlah yang sempurna yang hanya Tuhan yang tahu karena Dialah yang menetapkan jumlah orang2 pilihan, dimana kelak ketika seluruh jumlah orang2 pilihan ini telah genap maka dunia ini akan diakhiri (lihat Wahyu 7:9-17 bandingkan perkataan Yesus dalam Matius 24:22).


Sistem Pemerintahan ‘Keagamaan’ Saksi-Saksi Yehuwa
Susunan pemerintahan mereka terdiri dari: (1) Jemaat atau “Congregation” yang merupakan kumpulan2 yang bertemu bersama di tempat yang disebut Aula Kerajaan. Ibadah mereka bukan digereja. (2) Para pelayan yang mengatur kegiatan2 atau “Ministerial servant” yakni para petugas administrative yang membantu para penatua. (3) Aula Kerajaan atau “Kingdom Halls” yakni tempat jemaat berkumpul bersama. (4) Para Ketua Pertemuan atau “Presiding Overseers” yang memimpin pertemuan para penatua. (5) Para Penilik Pelayanan atau “Service Overseers” yang mengatur kegiatan2 diantara jemaat-jemaat. (6) Sang Penilik atau “Overseer” yang dipilih dari antara para Penatua sebagai Pemimpin Tertinggi. Dalam system mereka jabatan ini hanya boleh dijabat oleh seorang Pastor (pendeta). Pemimpin Tertinggi Saksi-saksi Yehuwa saat ini adalah Pastor (pendeta) M.H. Larson. Organisasi mereka luarbiasa rapi dan teratur. System yang bagus mendukung kemajuan pesat organisasi dan gerekan Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia!


Bagaimana Perkembangan Mereka di Indonesia?
Setelah puluhan tahun dilarang beraktifitas dengan bebas di wilayah Indonesia, gerakan Saksi Yehuwa akhirnya mendapat angin segar untuk leluasa bergerak mulai masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur). Kehadiran kantor-kantor operasional mereka sangat terasa khususnya di daerah-daerah yang termasuk daerah kantong kekristenan. Sampai pada hari ini mereka sedang berjuang melalui payung hukum untuk diakui sebagai salah satu aliran didalam kekristenan di Indonesia. Pusat mereka berada di Jakarta yang dikepalai oleh M.T.P. Hutasoit. Mereka memiliki basis pelatihan misi melalui Perkumpulan Siswa-Siswa Alkitab di Jakarta dengan dukungan penuh dari kantor pusat mereka di Brooklyn, NY!


Evaluasi dan Kesimpulan:
1. Saksi Yehowa lahir dari kelompok PA yang dipimpin oleh orang2 awam yang menekankan ayat-ayat Alkitab. Para “penginjil” mereka hafal luar kepala ayat-ayat Alkitab.
2. Para pemimpin mereka (misalnya: Rutherford), memiliki keahlian manajemen sehingga cara kerja mereka rapi dan efesien.
3. Teknik “penginjilan” mereka adalah literature, sehingga dapat menerobos segala lapisan.
4. Kekayaan mereka adalah kekuatan mereka untuk menggerakkan pengikutnya giat ber –‘PI’.
5. Orang2 Saksi Yehuwa adalah orang2 yang militan dalam menyebarkan ajaran dan pengaruh mereka melalui “door to door evangelization.”
6. Sasaran utama penginjilan mereka adalah orang2 kristen terutama mereka yang lemah iman dan pendirian keyakinannya rapuh dan yang pengetahuan Alkitabnya lemah dan dangkal!  Karena itu setiap anggota gereja dalam lingkup pengajaran yang benar harus mempelajari Alkitab dengan baik, benar dan ketat dan giat menyaksikan Yesus kepada orang lain, termasuk kepada orang-orang yang menyebut diri sebagai Saksi-Saksi Yehuwa ini.


Referensi Materi ini:
____________, Pencarian Manusia Akan Allah (judul asli: Man Seeking God). Brooklyn: WatchTower Bible
and Tract Society – International Bible Students Association, 1990.
Herlianto, Saksi Yehuwa dan Alkitab. Bandung: artikel Yayasan Bina Awam Oktober 2001 – www.YBA.com.
Jehovah’s Witnesses Official Website: www.watchtower.org
WatchTower Indonesia, Menara Pengawal – Memberitakan Kerajaan Allah. Jakarta: Perkumpulan Siswa-
Siswa Alkitab, edisi 15 April 2002.
WatchTower Indonesia, Sedarlah! (Awake!). Jakarta: Perkumpulan Siswa-Siswa Alkitab, edisi 22 Januari
2004.
Walter Martin, The Kingdom of The Cults. Minneapolis: Bethany House Publishers, 2003.
Yarman Halawa, The Cult Of Jehovah’s Witnesses (Assignment Article of Doctoral Ministry Program of
Covington Theological Seminary GA, USA – Asian Extensions, September 2006).


Catatan:
Setiap tindakan meng-copy makalah ini diharapkan kejujurannya untuk mencantumkan sumber asli/nama penulis.